Teman-teman, sudah tahukah kamu tentang Indonesian Youth Conference (IYC) yang akan dilaksanakan Juli 2010? Nah, IYC membuka open recruitment untuk para pemuda Indonesia yang ingin ikut secara sukarela (tidak dibayar) membantu acara kami ini sebagai bagian dari committee.
Persyaratannya:
* Semua pemuda Indonesia, siswa SMP-SMA, atau siapapun yang merasa masih berjiwa muda bisa ikut berpartisipasi dan mendaftar menjadi bagian dari kami.
* Yang paling kita butuhkan adalah komitmen dalam acara ini. Jadi, make sure kegiatan kalian di luar acara ini tidak menganggu kinerja kalian di IYC, ataupun sebaliknya.
Posisi yang dibutuhkan:
* Ticketing
mengurus segala urusan tentang ticketing. Dari mengatur jumlah, pendistribusian, sampai menjaga ticketing booth.
* Bazaar & Exhibition
Mencari vendor-vendor bazaar, mengurus penempatan, dan sejenisnya.
* Seminar
Menangani pembicara, perlengkapan seminar (seminar kit, dll).
* Workshop
Sama dengan seminar (mengurus pembicara untuk workshop).
* Sponsorship Staff
Membantu sponsorship staff yang sudah dibentuk sebelumnya untuk mencari sponsor dan dana.
* Cyber Volunteer Coordinator
Mengkoordinasi cyber volunteers yang akan dibentuk nanti.
* Volunteers Coordinator
Mengkoordinasi volunteers yang akan dibentuk nanti.
* Communication Staff
Membantu communication staff yang sudah ada bidang publikasi dan mengkomunikasikan acara IYC kepada khalayak luas.
* Music Perfomance
Menyusun dan mengatur jalannya acara music performance.
Kami membutuhkan:
1. CV
2. 2 (dua) posisi yang diprioritaskan/diinginkan
Pendaftaran bisa dilakukan di halaman http://apply.indonesianyouthconference.org/volunteer/.
Thank you everyone! Pass the information to anyone.
Jumat, 29 Januari 2010
Spread IYC-ers!
Pernah nggak ngebayangin ada suatu pekan dimana kita bisa ketemu dengan seluruh anak muda yang berbakat dan merupakan bibit-bibit masa depan Indonesia? Itulah alasan kenapa saya jatuh cinta dengan IYC. Suatu komunitas dimana saya bisa berekspresi dengan bebas, melontarkan apa yang saya cintai dan benci terhadap lingkungan, protes secara sopan, dan saya benar-benar nggak akan kebayang kalau saya bisa bertemu dengan seluruh pemimpin muda dari Indonesia. Itu luar biasa.
Itu perspektif saya terhadap IYC. Saya nggak tau apa yang membuat kalian ikut andil dalam IYC ini, tetapi saya yakin kalian semua punya harapan yang sama seperti saya untuk membuat IYC berhasil. Di satu pekan, kita bisa bertemu dengan berbagai pahlawan negara dalam bidang-bidang tertentu. Berbagi cerita dan solusi untuk membuat negara kita yang “seharusnya” tidak terpuruk. Membuat suatu perubahan bersama-sama, tangan demi tangan. Buat saya itu indah sekali.
Untuk membantu IYC ini berkembang, saya berharap banget kalian bisa mendukungnya dengan mengikuti:
Forum
http://shout.indonesianyouthconference.org/discussion/forum/iycers
Grup Facebook
http://www.facebook.com/group.php?gid=201583169719&ref=ts
Mailing List
http://groups.google.com/group/volunteersiyc
Dan tolong banget, kirimin domisili kalian supaya rencana roadshow IYC ke daerah-daerah bisa terlaksana lebih cepat. THANKS! :)
Make Your VOICE HEARD!
Itu perspektif saya terhadap IYC. Saya nggak tau apa yang membuat kalian ikut andil dalam IYC ini, tetapi saya yakin kalian semua punya harapan yang sama seperti saya untuk membuat IYC berhasil. Di satu pekan, kita bisa bertemu dengan berbagai pahlawan negara dalam bidang-bidang tertentu. Berbagi cerita dan solusi untuk membuat negara kita yang “seharusnya” tidak terpuruk. Membuat suatu perubahan bersama-sama, tangan demi tangan. Buat saya itu indah sekali.
Untuk membantu IYC ini berkembang, saya berharap banget kalian bisa mendukungnya dengan mengikuti:
Forum
http://shout.indonesianyouthconference.org/discussion/forum/iycers
Grup Facebook
http://www.facebook.com/group.php?gid=201583169719&ref=ts
Mailing List
http://groups.google.com/group/volunteersiyc
Dan tolong banget, kirimin domisili kalian supaya rencana roadshow IYC ke daerah-daerah bisa terlaksana lebih cepat. THANKS! :)
Make Your VOICE HEARD!
Dukung IYC di Shorty Awards 2010
Indonesian Youth Conference (IYC) menjadi satu-satunya wakil Indonesia di ajang Shorty Awards 2010. Shorty Awards merupakan sebuah penghargaan bagi individu dan organisasi yang secara maksimal menggunakan situs Twitter.
Kami membutuhkan dukungan dari kalian semua untuk bisa memenangkan ajang ini. Kamu bisa membantu IYC memperoleh Shorty Award di kategori #nonprofit dengan cara memilih IYC di: http://shortyawards.com/indonesianyouth. Voting ditutup pada tanggal 29 Januari 2010, dan IYC wajib berada di dalam posisi 5 besar untuk mencapai tahap selanjutnya.
Apabila IYC sukses melenggang sampai tahap akhir, IYC akan membawa nama pemuda Indonesia di New York, Amerika Serikat, pada bulan Maret 2010 mendatang. Jadi, ayo vote IYC sekarang! Karena sekarang saatnya suara kamu didengar!
By Alanda Kariza
Alanda is the Program Director of Indonesian Youth Conference. She is 18 years old and still studying in Binus International University.
Kami membutuhkan dukungan dari kalian semua untuk bisa memenangkan ajang ini. Kamu bisa membantu IYC memperoleh Shorty Award di kategori #nonprofit dengan cara memilih IYC di: http://shortyawards.com/indonesianyouth. Voting ditutup pada tanggal 29 Januari 2010, dan IYC wajib berada di dalam posisi 5 besar untuk mencapai tahap selanjutnya.
Apabila IYC sukses melenggang sampai tahap akhir, IYC akan membawa nama pemuda Indonesia di New York, Amerika Serikat, pada bulan Maret 2010 mendatang. Jadi, ayo vote IYC sekarang! Karena sekarang saatnya suara kamu didengar!
By Alanda Kariza
Alanda is the Program Director of Indonesian Youth Conference. She is 18 years old and still studying in Binus International University.
Rabu, 20 Januari 2010
Cerpen "Sejati itu Cinta"
Hawa dingin yang berhembus dari gunung Rinjani yang terasa meremukkan tulang-tulangku ternyata tak mempan untuk sekedar mendinginkan bara panas yang terasa di dalam dadaku.
“Maafkan tyang Mamiq, bukannya tyang hendak melawan atau membantah keinginan Mamiq. Tetapi sungguh, tyang belum siap untuk melaksanakan keinginan Mamiq tersebut”, sebuah alasan yang terdengar terbata-bata akhirnya keluar dari mulutku
Suasana hening. Belum ada respon dari Mamiq atas perkataanku tadi.
“Baiklah kalau begitu, Mamiq. Mungkin Baiq Adawiyah belum siap dan belum mau untuk memikirkan laju kehidupannya ke jenjang rumah tangga untuk berkeluarga. Lagi pula tyang juga tidak bisa memaksakan kehendak”, demikian Lalu Mahdi, pemuda bangsawan yang malam ini datang midang ke rumahku angkat bicara.
Demikianlah kejadian di berugaq malam itu, selalu saja menghantuiku. Sebenarnya sudah berkali-kali ada pemuda yang datang midang ke rumahku. Namun demikianlah, ketika Mamiq memberiku kesempatan untuk menentukan pilihan, aku selalu menjawab ‘tidak’ lamaran demi lamaran itu. Alasanku selalu saja mengatakan bahwa ‘aku belum siap untuk menikah’.
Entah mengapa setelah Lalu Mahdi midang ke rumahku malam itu, terasa ada sebuah getar dalam dadaku yang menyuruhku untuk menerima lamarannya. Lalu Mahdi ku pandang sebagai seorang pemuda yang berwibawa, penuh tanggung ajwab, sopan-santun, dan begitu taat beribadah. Aku lumayan mengenal kepribadiannya dengan baik disebabkan Mamiqku dan Mamiq Lalu Mahdi bersahabat. Budi pekertinya sering aku dengar dari pujian Mamiq terhadap pribadi dirinya.
Memang ku sadari pada saat diberikan kesempatan untuk menjawab lamaran Lalu Mahdi tersebut ada getar yang mendorong hatiku untuk mengatakan ‘ya’ untuk menerima lamaran itu. Namun entahlah, kata yang keluar dari mulutku justru mengucapkan penolakan terhadap lamaran itu disebabkan oleh dorongan yang begitu kuat dari bagian hatiku yang lainnya. Dorongan semacam apakah di dalam hatiku itu?. Aku pun belum mengerti.
***
Di rong bale dalem…
Mamiq berbaring di atas dipan. Sementara itu aku sibuk memijit kaki dan tangan Mamiq yang semakin hari tampak semakin ringkih.
“Baiq Adawiyah, anakku. Jujur, Mamiq bingung dengan segala keputusanmu yang selalu menolak lamaran setiap pemuda yang datang midang. Sampai kapan kamu akan terus seperti ini, nak?. Umurmu sudah hampir menginjak usia 30 tahun. Kapan kamu kan menikah?. Mamiq tidak ingin kamu akan dicap sebagai ‘dedare toaq’ oleh orang-orang kampung. Lagi pula, Mamiq sudah sakit-sakitan, nak. Mamiq ingin sebelum nantinya Mamiq pergi menghadap sang Khaliq, Mamiq ingin menyaksikan pernikahanmu. Karena kamu adalah satu-satunya buah hati yang Mamiq miliki”, memecahkan keheninga, Mamiq berbicara panjang lebar padaku.
“Mamiq, tolong jangan berkata demikian. Tyang tidak ingin kehilangan Mamiq setelah tujuh tahun lalu Inaq juga meninggalkan kita. Mamiq, maafkan tyang sekali lagi, tyang memang benar-benar belum siap menikah”, ucapku menanggapi ucapan Mamiq.
“Kanapa, Baiq?. Umurmu sudah cukup matang untuk melangkah ke jenjang pernikahan”.
“Tapi tyang takut, Mamiq”
“Takut?. Takut karena apa?”, Mamiq bingung
“Takut karena cinta”
“Takut patah cinta?, demikian maksudmu?. Kau takut gagal dalam bercinta untuk membangun rumah tangga?. Mamiq yakin kau bisa mencari pemuda yang sejati akan mencintaimu jika memang itu alasannya”
“Bukan, Mamiq. Tetapi karena ada cinta yang begitu terasa suci di hati tyang. Tyang tidak ingin cinta itu ternodai oleh datangnya cinta lain dalam hidup tyang”.
“Cinta untuk siapa?”
“Untuk sang Khaliq”, jawabku singkat. Mamiq tersenyum mendengar jawabanku.
“Anakku, mencintai Rabbimu itu memang sudah kewajiban seluruh ummat. Ketahuilah, anakku, cinta pada Rabbimu akan semakin terasa apabila cinta itu sampai kepada-Nya”.
“Maksud Mamiq?”, aku tak mengerti.
“Menikah adalah sunnah Rasul. Dan syurga seorang istri terletak pada kebaktianmu pada suami, tentunya sebagai wujud dari cintamu pada-Nya. Dan cintamu pun akan tersambut dengan hidayah-Nya”, Mamiq menjelaskan padaku.
Aku terdiam, mencoba untuk meresapi semua perkatan Mamiq tadi.
***
Sebulan kemudian,
Kuntum kamboja berguguran di atas tanah makam yang masih merah basah. Ku harap sosok tubuh yang berteduh di bawah pajang batu nisan itu dapat beristirahat dengan damai.
Sebutir, dua butir, air mata jatuh ke pipiku, kian menganak sungai. Tetapi nun jauh di relung hatiku, aku sangat mengikhlaskan kepergiannya.
“Mamiq, maafkan tyang jika hingga kepergian Mamiq, tyang belum juga melangsungkan pernikahan seperti yang Mamiq amanatkan. Tyang juga minta maaf dengan setulus hati kepada Mamiq mengenai tekad tyang sudah bulat. Hingga akhir hayat pun tyang tidak akan melangsungkan pernikahan itu. Tyang tidak akan peduli apa pun yang dikatakan oleh orang-orang kampung. Entah tyang akan dicap sebagai ‘dedare toaq’ pun tyang tidak peduli. Seluruh sisa hidup tyang akan tyang pergunakan untuk mengabdikan cinta tyang pada-Nya. Tyang tidak mau menikah karena tyang tidak ingin kecintaan tyang kelak pada suami akan mengalahkan cinta tyang pada sang Khaliq. Karena cinta tyang hanya untuk-Nya. Cinta yang begitu tulus dan istimewa”.
***
Kini, sisa umurku yang semakin hari semakin berkurang benar-benar ku pergunakan untuk mengabdikan cintaku pada Sang Rabbi. Duduk terdiam di dalam kamar dengan menghadap kiblat untuk berserah diri pada-Nya dalam kekhusyukan dan keheningan.
“Ya Allah, Ya Tuhanku. Ku abdikan seluruh hidup dan cintaku hanya untuk-Mu. Ku ingin di hatiku hanyalah untuk mencintai-Mu. Aku ingin mencintai-Mu dengan istimewa. Walau ku sadari, mungkin keistimewaan cintaku ini kan bernilai sederhan di hadap-Mu. Sebab, hanya cinta-Mu padakulah yang sepatutnya disebut dengan keistimewaan sebuah cinta. Ku tahu di dunia ini tak akan ku temukan kata sejati, karena semuanya hanya kefanaan semata. Tapi kini aku justru menemukan kata sejati itu di hatiku, yaitu untuk mencintai-Mu. Kata sejati itu ternyata hanya ada pada kata cinta dan cinta yang sejati itu sebenarnyalah hanya datang dari cinta-Mu. Walau mungkin terkadang beribu satu kekhilafan sering hamba-Mu perbuat. Ya Allah, harapku semoga hujan cinta-Mu menyirami tandus kerinduan di hatiku, hingga kelak menemui-Mu”.
Demikian doa dan pintaku pada Rabbi, benar-benar dengan hati yang ikhlas ku abdikan cintaku hanya untuk-Nya. Karena hanya Dialah Sang Pemilik kesejatian cinta itu.
***
Walau sampai akhir hayat ku tak akan memberikan cinta dan hatiku ini pada seorang anak Adam, tetapi ku harap kelak Rabbi akan memberiku seorang pendamping di akhirat, suami dari seorang pemuda penghuni syurga. Sebagai wujud dari cinta-Nya untukku.
Dan rupanya kekuatan cintaku pada-Nyalah yang selalu mendorongku untuk menolak semua lamaran pemuda yang hendak melamarku. ‘Karena cinta’, memang itulah alasanku.
Satu hal lagi, jauh di dasar hatiku yang paling dalam, ku ingin menjadi perawan bau syurga, sosok Rabiatun Adawiyah kedua di dunia ini. Yang mengabdikan seluruh cinta-Nya hanya untuk Sang Khaliq, Allah SWT, pemilik kesejatian cinta.
***
Keterangan :
Tyang : aku, saya (bahasa halus suku Sasak di Lombok)
Mamiq : bapak (panggilan untuk kaum bangsawan)
Baiq : gelar kebangsawanan untuk kaum perempuan
Lalu : gelar kebangsawanan untuk kaum lelaki
Midang : tradisi melamar di suku Sasak, Lombok
Berugaq : bangunan tradisional suku Sasak yang berfungsi untuk menerima
tamu
Rong bale dalem : ruangan di rumah bagian dalam
Dedare toaq : perawan tua
Inaq : ibu
“Maafkan tyang Mamiq, bukannya tyang hendak melawan atau membantah keinginan Mamiq. Tetapi sungguh, tyang belum siap untuk melaksanakan keinginan Mamiq tersebut”, sebuah alasan yang terdengar terbata-bata akhirnya keluar dari mulutku
Suasana hening. Belum ada respon dari Mamiq atas perkataanku tadi.
“Baiklah kalau begitu, Mamiq. Mungkin Baiq Adawiyah belum siap dan belum mau untuk memikirkan laju kehidupannya ke jenjang rumah tangga untuk berkeluarga. Lagi pula tyang juga tidak bisa memaksakan kehendak”, demikian Lalu Mahdi, pemuda bangsawan yang malam ini datang midang ke rumahku angkat bicara.
Demikianlah kejadian di berugaq malam itu, selalu saja menghantuiku. Sebenarnya sudah berkali-kali ada pemuda yang datang midang ke rumahku. Namun demikianlah, ketika Mamiq memberiku kesempatan untuk menentukan pilihan, aku selalu menjawab ‘tidak’ lamaran demi lamaran itu. Alasanku selalu saja mengatakan bahwa ‘aku belum siap untuk menikah’.
Entah mengapa setelah Lalu Mahdi midang ke rumahku malam itu, terasa ada sebuah getar dalam dadaku yang menyuruhku untuk menerima lamarannya. Lalu Mahdi ku pandang sebagai seorang pemuda yang berwibawa, penuh tanggung ajwab, sopan-santun, dan begitu taat beribadah. Aku lumayan mengenal kepribadiannya dengan baik disebabkan Mamiqku dan Mamiq Lalu Mahdi bersahabat. Budi pekertinya sering aku dengar dari pujian Mamiq terhadap pribadi dirinya.
Memang ku sadari pada saat diberikan kesempatan untuk menjawab lamaran Lalu Mahdi tersebut ada getar yang mendorong hatiku untuk mengatakan ‘ya’ untuk menerima lamaran itu. Namun entahlah, kata yang keluar dari mulutku justru mengucapkan penolakan terhadap lamaran itu disebabkan oleh dorongan yang begitu kuat dari bagian hatiku yang lainnya. Dorongan semacam apakah di dalam hatiku itu?. Aku pun belum mengerti.
***
Di rong bale dalem…
Mamiq berbaring di atas dipan. Sementara itu aku sibuk memijit kaki dan tangan Mamiq yang semakin hari tampak semakin ringkih.
“Baiq Adawiyah, anakku. Jujur, Mamiq bingung dengan segala keputusanmu yang selalu menolak lamaran setiap pemuda yang datang midang. Sampai kapan kamu akan terus seperti ini, nak?. Umurmu sudah hampir menginjak usia 30 tahun. Kapan kamu kan menikah?. Mamiq tidak ingin kamu akan dicap sebagai ‘dedare toaq’ oleh orang-orang kampung. Lagi pula, Mamiq sudah sakit-sakitan, nak. Mamiq ingin sebelum nantinya Mamiq pergi menghadap sang Khaliq, Mamiq ingin menyaksikan pernikahanmu. Karena kamu adalah satu-satunya buah hati yang Mamiq miliki”, memecahkan keheninga, Mamiq berbicara panjang lebar padaku.
“Mamiq, tolong jangan berkata demikian. Tyang tidak ingin kehilangan Mamiq setelah tujuh tahun lalu Inaq juga meninggalkan kita. Mamiq, maafkan tyang sekali lagi, tyang memang benar-benar belum siap menikah”, ucapku menanggapi ucapan Mamiq.
“Kanapa, Baiq?. Umurmu sudah cukup matang untuk melangkah ke jenjang pernikahan”.
“Tapi tyang takut, Mamiq”
“Takut?. Takut karena apa?”, Mamiq bingung
“Takut karena cinta”
“Takut patah cinta?, demikian maksudmu?. Kau takut gagal dalam bercinta untuk membangun rumah tangga?. Mamiq yakin kau bisa mencari pemuda yang sejati akan mencintaimu jika memang itu alasannya”
“Bukan, Mamiq. Tetapi karena ada cinta yang begitu terasa suci di hati tyang. Tyang tidak ingin cinta itu ternodai oleh datangnya cinta lain dalam hidup tyang”.
“Cinta untuk siapa?”
“Untuk sang Khaliq”, jawabku singkat. Mamiq tersenyum mendengar jawabanku.
“Anakku, mencintai Rabbimu itu memang sudah kewajiban seluruh ummat. Ketahuilah, anakku, cinta pada Rabbimu akan semakin terasa apabila cinta itu sampai kepada-Nya”.
“Maksud Mamiq?”, aku tak mengerti.
“Menikah adalah sunnah Rasul. Dan syurga seorang istri terletak pada kebaktianmu pada suami, tentunya sebagai wujud dari cintamu pada-Nya. Dan cintamu pun akan tersambut dengan hidayah-Nya”, Mamiq menjelaskan padaku.
Aku terdiam, mencoba untuk meresapi semua perkatan Mamiq tadi.
***
Sebulan kemudian,
Kuntum kamboja berguguran di atas tanah makam yang masih merah basah. Ku harap sosok tubuh yang berteduh di bawah pajang batu nisan itu dapat beristirahat dengan damai.
Sebutir, dua butir, air mata jatuh ke pipiku, kian menganak sungai. Tetapi nun jauh di relung hatiku, aku sangat mengikhlaskan kepergiannya.
“Mamiq, maafkan tyang jika hingga kepergian Mamiq, tyang belum juga melangsungkan pernikahan seperti yang Mamiq amanatkan. Tyang juga minta maaf dengan setulus hati kepada Mamiq mengenai tekad tyang sudah bulat. Hingga akhir hayat pun tyang tidak akan melangsungkan pernikahan itu. Tyang tidak akan peduli apa pun yang dikatakan oleh orang-orang kampung. Entah tyang akan dicap sebagai ‘dedare toaq’ pun tyang tidak peduli. Seluruh sisa hidup tyang akan tyang pergunakan untuk mengabdikan cinta tyang pada-Nya. Tyang tidak mau menikah karena tyang tidak ingin kecintaan tyang kelak pada suami akan mengalahkan cinta tyang pada sang Khaliq. Karena cinta tyang hanya untuk-Nya. Cinta yang begitu tulus dan istimewa”.
***
Kini, sisa umurku yang semakin hari semakin berkurang benar-benar ku pergunakan untuk mengabdikan cintaku pada Sang Rabbi. Duduk terdiam di dalam kamar dengan menghadap kiblat untuk berserah diri pada-Nya dalam kekhusyukan dan keheningan.
“Ya Allah, Ya Tuhanku. Ku abdikan seluruh hidup dan cintaku hanya untuk-Mu. Ku ingin di hatiku hanyalah untuk mencintai-Mu. Aku ingin mencintai-Mu dengan istimewa. Walau ku sadari, mungkin keistimewaan cintaku ini kan bernilai sederhan di hadap-Mu. Sebab, hanya cinta-Mu padakulah yang sepatutnya disebut dengan keistimewaan sebuah cinta. Ku tahu di dunia ini tak akan ku temukan kata sejati, karena semuanya hanya kefanaan semata. Tapi kini aku justru menemukan kata sejati itu di hatiku, yaitu untuk mencintai-Mu. Kata sejati itu ternyata hanya ada pada kata cinta dan cinta yang sejati itu sebenarnyalah hanya datang dari cinta-Mu. Walau mungkin terkadang beribu satu kekhilafan sering hamba-Mu perbuat. Ya Allah, harapku semoga hujan cinta-Mu menyirami tandus kerinduan di hatiku, hingga kelak menemui-Mu”.
Demikian doa dan pintaku pada Rabbi, benar-benar dengan hati yang ikhlas ku abdikan cintaku hanya untuk-Nya. Karena hanya Dialah Sang Pemilik kesejatian cinta itu.
***
Walau sampai akhir hayat ku tak akan memberikan cinta dan hatiku ini pada seorang anak Adam, tetapi ku harap kelak Rabbi akan memberiku seorang pendamping di akhirat, suami dari seorang pemuda penghuni syurga. Sebagai wujud dari cinta-Nya untukku.
Dan rupanya kekuatan cintaku pada-Nyalah yang selalu mendorongku untuk menolak semua lamaran pemuda yang hendak melamarku. ‘Karena cinta’, memang itulah alasanku.
Satu hal lagi, jauh di dasar hatiku yang paling dalam, ku ingin menjadi perawan bau syurga, sosok Rabiatun Adawiyah kedua di dunia ini. Yang mengabdikan seluruh cinta-Nya hanya untuk Sang Khaliq, Allah SWT, pemilik kesejatian cinta.
***
Keterangan :
Tyang : aku, saya (bahasa halus suku Sasak di Lombok)
Mamiq : bapak (panggilan untuk kaum bangsawan)
Baiq : gelar kebangsawanan untuk kaum perempuan
Lalu : gelar kebangsawanan untuk kaum lelaki
Midang : tradisi melamar di suku Sasak, Lombok
Berugaq : bangunan tradisional suku Sasak yang berfungsi untuk menerima
tamu
Rong bale dalem : ruangan di rumah bagian dalam
Dedare toaq : perawan tua
Inaq : ibu
Cerpen "Inaqku Seorang Pembohong"
Siang yang terik menampakkan sinarnya dengan garang. Aku duduk berselonjor diberugaq dengan kakak semata wayangku, seraya menikmati angin sepoi yang dihembuskan oleh pohon nangka yang berdiri angkuh di samping berugaq, kami berdua pun menunggu kedatangan Inaq.
Berselang beberapa saat, bayangan Inaq pun mulai nampak dari kejauhan, yang disekelilingnya dipagari pohon-pohon raksasa hutan. Nampak Inaq memikul seikat kayu yang sudah diambilnya di dalam hitan, lantas terus menelusuri jalan setapak menuju berugaq tempat kami duduk sekarang. Melihat kedatangan Inaq, aku bersorak riang. Ku lihat wajah kakaku pun memancarkan kegirangan.
Sesampai di berugaq, Inaq langsung meletakkan kayu bakar bawaannya. Besok paginya barulah Inaq akan membawa kayu bakar tersebut ke pasar, kemudian dijual untuk membeli kebutuhan pangan sehari-hari. Inaq sudah berperan ganda bagi kami. Menjadi figur seorang Inaq yang penuh kasih sayang sekaligus menjadi figur seorang amaq yang penuh tanggung jawab dan selalu melindungi. Peran rangkap yang Inaq lakoni ini mulai beliau sandang setelah amaq kembali ke pangkuan Ilahi Rabbi.
“Inaq, tiyang lapar” seruku langsung pada Inaq begitu beliau meletakkan kayu bakar bawaannya.
Inaq langsung mengelus kepalaku lantas menciumi pipiku. Keringat yang mengucur di pelipisnya pun menempel di samping telingaku.
“Inaq akan memasakkan nasi untukmu, anakku” begitulah jawaban yang ku terima dari Inaq. Sebuah jawaban yang sungguh membuat hatiku berteriak girang, seiring dengan teriakan-teriakan kecil perutku yang sudah keroncongan.
Setelah berkata demikian, Inaq pun mengajak kami berdua masuk ke dalam gubuk. Sebuah gubuk berdinding bedeq dan beratap rumbia. Gubuk yang berada di tepian hutan di kaki Rinjani, sebuah gunung tertinggi di pulau Lombok.
Di dapur yang berada di bagian belakang rumah kami, Inaq menjejali tungku yang terbuat dari batu bata bersusun, dengan bilahan-bilahan kayu bakar. Setelah tungku menyala, Inaq pun menanak beras yang hanya dua genggam. Aku dan kakakku pun duduk menunggui di depan tungku.
Setelah nasi ditanaq Inaq matang, aku dan kakakku pun mulai makan. Seperti biasa, makan tanpa lauq apapun. Hanya dengan nasi yang disirami air putih kemudian ditaburi garam halus. Sesekali saja kami merasakan nikmatnya makan dengan lauq tempe, itupun jikalau kayu bakar yang Inaq jual laku banyak.
Aku dan kakakku mulai menyantap makan siang kami dengan lahapnya. Tidak peduli dengan makanan ala kadarnya itu. Sebab perut yang sudah terlampau keroncong dan lagi pula hidangan demikian sudah menjadi hidangan rutin yang kami santap setiap harinya. Tak ada gunanya pula aku minta terlalu muluk dengan lauq-lauq yang ku inginkan pada Inaq, sebab ku tahu Inaq selalu saja berbohong padaku.
Kala itu aku pernah merengek minta dibelikan lauq ikan laut. Tentunya dengan sikap kekanakanku yang penuh kemanjaan sebagai anak paling kecil pada Inaq. “Kalau ada uang, Inaq akan membelikannya untukmu” demikian jawaban Inaq yang cukup membesarkan hatiku. Aku girang bukan kepalang. Ku tunggu sampai Inaq memenuhi janjinya untukku. Namun telah sekian bulan waktu itu berlalu, Inaq tak jua membayar janjinya padaku. Kini aku tahu, sepertinya Inaq berbohong.
Kali ini saat menyantap makan siang bersama kakakku, Inaq tidak ikut serta. (akh…maaf, sepertinya tidak bisa disebut makan siang, lebih tepatnya makan harian. Karena memang, dalam sehari kami hanya makan satu kali saja, terkadnag pula saat kayu bakar yang Inaq jual tidak laku, kami tidak makan nasi sama sekali. Hanya cukup mengganjal perut dengan sepotong ubi rebus yang diambil dari dalam hutan).
“Inaq tidak ikut makan?”, tanya kakakku saat melihat Inaq tidak ikut nimbrung bersama kami yang makan pada satu piring
Inaq tersenyum lantas berkata “Makanlah nak, Inaq tidak lapar” demikianlah ucapan Inaq dibalik wajah letih yang coba beliau sembunyikan dari kami. Tatapan beliau sayu, namun tetap coba diperlihatkan dengan tatapan sebening mungkin. Wajah beliau nampak penat, namun tetap diperlihatkan sesegar mungkin padaku. Tubuh beliau nampak lelah, namun tetap diperlihatkan sebugar mungkin dihadapan kami.
Setelah makang siang, Inaq mengajak kami untuk shalar dzuhur. Kami berwudhu di sumur belakang rumah. Inaq yang menimbakan air untuk kami berdua, buah hati beliau yang memang masih terlalu kecil-kecil untuk menerima getirnya hidup ini. Kakakku berumur sembilan tahun sementara aku sendiri masih berumur tujuh tahun. Meskin belum tahu pasti bagaimana getirnya hidup yang kami hadapi, namun sudah merasakan bagaimana pahitnya jalan yang tengah kami lewati. Kepahitan-kepahitan itu sudah mulai kami rasakan disaat harus menahan lapar seharian. Kalaupun makan hanya sekali dalam sehari, makan dengan ala kadarnya saja. Perasaan ingin ikut serta saat melihat anak-anak desa lainnya berlarian menuju sekolah, sementara kami tak pernah mampu seperti mereka yang demikian.
Habis berwudhu aku, Inaq dan kakakku bergantian shalat dzuhur, sebab mukena yang kami miliki hanyalah sebuah. Itupun sudah sangat lusuh. Seusai shalat pun tak lupa Inaq selalu mengajak kami untuk memanjatkan doa pada Rabb semesta alam.
“Anak-anakku, setelah kita harus berdoa pada Allah SWT. Memanjatkan syukur atas nikmat yang dia berikan untuk kita” ucap Inaq seraya mengangkat kedua tangannya dengan posisi menengadah ke atas, seraya aku dan kakakku mengamini.
* * *
Suara binatang malam bersahutan. Gubukku terselubung temaram dengan cahaya redup lampu tempel. Mataku terbuka perlahan. Aku baru saja terbangun dari mimpi indahku. Pikirku ini sudah subuh buta, ternyata hari masih tenggelam dalam larut malamnya. Ku tengok sebelah tempat tidurku, tidak ada orang yang kucari. Mestinya Inaqlah yang berbaring tidur di tempat itu. Lantas kemana beliau pergi malam hari begini? Aku bangun dari pembariangan. Menyeok langkah ke ruang depan. Kudapati pula Inaqku sedang duduk beralas tikar lusuh sedang menganyam daun pandan menjadi tikar.
“Inaq tidak tidur?” tanyaku. Mimik wajah beliau terlihat kaget dengan kedatanganku.
“Mengapa kamu bangun dini hari begini, nak? Tidurlah, Inaq belum mengantuk” jawab beliau dibalik tatapan mata yang sembab dan sayu serta terlihat cukup mengantuk. “Tidurlah di samping Inaq, anakku, Inaq masih harus menyelesaikan anyaman tikar ini agar besok bisa dijual di pasar” lanjut Inaq. Tak urung, akupun mengikuti perintah Inaq, tidur di samping beliau. Terbang kembali bersama alam mimpiku.
* * *
Inaq terbaring lemah di atas pembaringan reot dan sudah termakan rayap. Berselimut lusuh. Aku dan kakakku duduk bersisian di samping Inaq. Kakak memijiti kaki Inaq perlahan, sementara aku memijiti lengan beliau. Ku rasakan suhu badan Inaq terasa panas. Menyaksikan tubuh paruh baya itu terbaring lemah tak berdaya, butiran bening perlahan mengalir di kelopak mataku.
“Jangan menangis nak, Inaq tidak merasa sakit” ucapan lemah itu keluar dari mulut perempuan yang selama ini telah kupanggil Inaq dengan penuh kasih. Meski usia paruh baya yang menggelayuti umur Inaq dengan kulit wajahnya yang tak lagi segar, namun dibalik itu pesona kasih yang beliau pancarkan selalu saja nampak kian bersinar layaknya intan bagi kami.
* * *
Kuntum kamboja gugur perlahan di atas gundukan tanah yang masih merah. Tanganku tengadah ke atas. Sementara butiran bening yang menganak sungai mengaliri pipiku. Di bawah gundukan tanah itu telah bersemayam tubuh seorang hawa yang telah merawat dan membesarkanku dengan segenap cintanya. Meski di balik itu pula Inaq sudah seringkali berbohong padaku.
“Makanlah, nak. Inaq tidak lapar” ucap beliau. Padahal ku tahu seharian itu belum ada makanan yang masuk ke perut beliau.
“Tidurlah, nak, Inaq belum mengantuk” ucap beliau demi menyelesaikan anyaman tikar agar bisa dijual untuk kemudian membelikan beras untuk kami. Padahal aku tahu mata beliau terlihat sembab dan mengantuk.
“Jangan menangis, nak. Inaq tidak merasa sakit” ucap beliau membesarkan hatiku saat beliau terbaring lemah. Padahal aku ingat betul. Setelah mengucapkan kata demikian terdengar halus syahadatain yang beliau baca. Lantas Inaq pun memejamkan matanya, melepaskan genggaman tangannya dipergelangan tanganku, serta mengembangkan sebuah senyuman penuh cinta sebelum akhirnya kemudian arwah beliau terbang bersama malaikat menuju ke pangkuan-Nya.
Terbang pula bersama kebohongan-kebohongan penuh kebajikan yang telah beliau suguhkan untukku dan kakakku demi membesarkan hati kami, buah hati yang telah beliau rawat dengan kasihnya yang penuh keabadian.
* * *
Ket :
Bedeq : Anyaman bambu
Inaq : Ibu
Tiyang : Aku
Berugak : Bangunan yang berada di samping rumah tradisional sasak
Berselang beberapa saat, bayangan Inaq pun mulai nampak dari kejauhan, yang disekelilingnya dipagari pohon-pohon raksasa hutan. Nampak Inaq memikul seikat kayu yang sudah diambilnya di dalam hitan, lantas terus menelusuri jalan setapak menuju berugaq tempat kami duduk sekarang. Melihat kedatangan Inaq, aku bersorak riang. Ku lihat wajah kakaku pun memancarkan kegirangan.
Sesampai di berugaq, Inaq langsung meletakkan kayu bakar bawaannya. Besok paginya barulah Inaq akan membawa kayu bakar tersebut ke pasar, kemudian dijual untuk membeli kebutuhan pangan sehari-hari. Inaq sudah berperan ganda bagi kami. Menjadi figur seorang Inaq yang penuh kasih sayang sekaligus menjadi figur seorang amaq yang penuh tanggung jawab dan selalu melindungi. Peran rangkap yang Inaq lakoni ini mulai beliau sandang setelah amaq kembali ke pangkuan Ilahi Rabbi.
“Inaq, tiyang lapar” seruku langsung pada Inaq begitu beliau meletakkan kayu bakar bawaannya.
Inaq langsung mengelus kepalaku lantas menciumi pipiku. Keringat yang mengucur di pelipisnya pun menempel di samping telingaku.
“Inaq akan memasakkan nasi untukmu, anakku” begitulah jawaban yang ku terima dari Inaq. Sebuah jawaban yang sungguh membuat hatiku berteriak girang, seiring dengan teriakan-teriakan kecil perutku yang sudah keroncongan.
Setelah berkata demikian, Inaq pun mengajak kami berdua masuk ke dalam gubuk. Sebuah gubuk berdinding bedeq dan beratap rumbia. Gubuk yang berada di tepian hutan di kaki Rinjani, sebuah gunung tertinggi di pulau Lombok.
Di dapur yang berada di bagian belakang rumah kami, Inaq menjejali tungku yang terbuat dari batu bata bersusun, dengan bilahan-bilahan kayu bakar. Setelah tungku menyala, Inaq pun menanak beras yang hanya dua genggam. Aku dan kakakku pun duduk menunggui di depan tungku.
Setelah nasi ditanaq Inaq matang, aku dan kakakku pun mulai makan. Seperti biasa, makan tanpa lauq apapun. Hanya dengan nasi yang disirami air putih kemudian ditaburi garam halus. Sesekali saja kami merasakan nikmatnya makan dengan lauq tempe, itupun jikalau kayu bakar yang Inaq jual laku banyak.
Aku dan kakakku mulai menyantap makan siang kami dengan lahapnya. Tidak peduli dengan makanan ala kadarnya itu. Sebab perut yang sudah terlampau keroncong dan lagi pula hidangan demikian sudah menjadi hidangan rutin yang kami santap setiap harinya. Tak ada gunanya pula aku minta terlalu muluk dengan lauq-lauq yang ku inginkan pada Inaq, sebab ku tahu Inaq selalu saja berbohong padaku.
Kala itu aku pernah merengek minta dibelikan lauq ikan laut. Tentunya dengan sikap kekanakanku yang penuh kemanjaan sebagai anak paling kecil pada Inaq. “Kalau ada uang, Inaq akan membelikannya untukmu” demikian jawaban Inaq yang cukup membesarkan hatiku. Aku girang bukan kepalang. Ku tunggu sampai Inaq memenuhi janjinya untukku. Namun telah sekian bulan waktu itu berlalu, Inaq tak jua membayar janjinya padaku. Kini aku tahu, sepertinya Inaq berbohong.
Kali ini saat menyantap makan siang bersama kakakku, Inaq tidak ikut serta. (akh…maaf, sepertinya tidak bisa disebut makan siang, lebih tepatnya makan harian. Karena memang, dalam sehari kami hanya makan satu kali saja, terkadnag pula saat kayu bakar yang Inaq jual tidak laku, kami tidak makan nasi sama sekali. Hanya cukup mengganjal perut dengan sepotong ubi rebus yang diambil dari dalam hutan).
“Inaq tidak ikut makan?”, tanya kakakku saat melihat Inaq tidak ikut nimbrung bersama kami yang makan pada satu piring
Inaq tersenyum lantas berkata “Makanlah nak, Inaq tidak lapar” demikianlah ucapan Inaq dibalik wajah letih yang coba beliau sembunyikan dari kami. Tatapan beliau sayu, namun tetap coba diperlihatkan dengan tatapan sebening mungkin. Wajah beliau nampak penat, namun tetap diperlihatkan sesegar mungkin padaku. Tubuh beliau nampak lelah, namun tetap diperlihatkan sebugar mungkin dihadapan kami.
Setelah makang siang, Inaq mengajak kami untuk shalar dzuhur. Kami berwudhu di sumur belakang rumah. Inaq yang menimbakan air untuk kami berdua, buah hati beliau yang memang masih terlalu kecil-kecil untuk menerima getirnya hidup ini. Kakakku berumur sembilan tahun sementara aku sendiri masih berumur tujuh tahun. Meskin belum tahu pasti bagaimana getirnya hidup yang kami hadapi, namun sudah merasakan bagaimana pahitnya jalan yang tengah kami lewati. Kepahitan-kepahitan itu sudah mulai kami rasakan disaat harus menahan lapar seharian. Kalaupun makan hanya sekali dalam sehari, makan dengan ala kadarnya saja. Perasaan ingin ikut serta saat melihat anak-anak desa lainnya berlarian menuju sekolah, sementara kami tak pernah mampu seperti mereka yang demikian.
Habis berwudhu aku, Inaq dan kakakku bergantian shalat dzuhur, sebab mukena yang kami miliki hanyalah sebuah. Itupun sudah sangat lusuh. Seusai shalat pun tak lupa Inaq selalu mengajak kami untuk memanjatkan doa pada Rabb semesta alam.
“Anak-anakku, setelah kita harus berdoa pada Allah SWT. Memanjatkan syukur atas nikmat yang dia berikan untuk kita” ucap Inaq seraya mengangkat kedua tangannya dengan posisi menengadah ke atas, seraya aku dan kakakku mengamini.
* * *
Suara binatang malam bersahutan. Gubukku terselubung temaram dengan cahaya redup lampu tempel. Mataku terbuka perlahan. Aku baru saja terbangun dari mimpi indahku. Pikirku ini sudah subuh buta, ternyata hari masih tenggelam dalam larut malamnya. Ku tengok sebelah tempat tidurku, tidak ada orang yang kucari. Mestinya Inaqlah yang berbaring tidur di tempat itu. Lantas kemana beliau pergi malam hari begini? Aku bangun dari pembariangan. Menyeok langkah ke ruang depan. Kudapati pula Inaqku sedang duduk beralas tikar lusuh sedang menganyam daun pandan menjadi tikar.
“Inaq tidak tidur?” tanyaku. Mimik wajah beliau terlihat kaget dengan kedatanganku.
“Mengapa kamu bangun dini hari begini, nak? Tidurlah, Inaq belum mengantuk” jawab beliau dibalik tatapan mata yang sembab dan sayu serta terlihat cukup mengantuk. “Tidurlah di samping Inaq, anakku, Inaq masih harus menyelesaikan anyaman tikar ini agar besok bisa dijual di pasar” lanjut Inaq. Tak urung, akupun mengikuti perintah Inaq, tidur di samping beliau. Terbang kembali bersama alam mimpiku.
* * *
Inaq terbaring lemah di atas pembaringan reot dan sudah termakan rayap. Berselimut lusuh. Aku dan kakakku duduk bersisian di samping Inaq. Kakak memijiti kaki Inaq perlahan, sementara aku memijiti lengan beliau. Ku rasakan suhu badan Inaq terasa panas. Menyaksikan tubuh paruh baya itu terbaring lemah tak berdaya, butiran bening perlahan mengalir di kelopak mataku.
“Jangan menangis nak, Inaq tidak merasa sakit” ucapan lemah itu keluar dari mulut perempuan yang selama ini telah kupanggil Inaq dengan penuh kasih. Meski usia paruh baya yang menggelayuti umur Inaq dengan kulit wajahnya yang tak lagi segar, namun dibalik itu pesona kasih yang beliau pancarkan selalu saja nampak kian bersinar layaknya intan bagi kami.
* * *
Kuntum kamboja gugur perlahan di atas gundukan tanah yang masih merah. Tanganku tengadah ke atas. Sementara butiran bening yang menganak sungai mengaliri pipiku. Di bawah gundukan tanah itu telah bersemayam tubuh seorang hawa yang telah merawat dan membesarkanku dengan segenap cintanya. Meski di balik itu pula Inaq sudah seringkali berbohong padaku.
“Makanlah, nak. Inaq tidak lapar” ucap beliau. Padahal ku tahu seharian itu belum ada makanan yang masuk ke perut beliau.
“Tidurlah, nak, Inaq belum mengantuk” ucap beliau demi menyelesaikan anyaman tikar agar bisa dijual untuk kemudian membelikan beras untuk kami. Padahal aku tahu mata beliau terlihat sembab dan mengantuk.
“Jangan menangis, nak. Inaq tidak merasa sakit” ucap beliau membesarkan hatiku saat beliau terbaring lemah. Padahal aku ingat betul. Setelah mengucapkan kata demikian terdengar halus syahadatain yang beliau baca. Lantas Inaq pun memejamkan matanya, melepaskan genggaman tangannya dipergelangan tanganku, serta mengembangkan sebuah senyuman penuh cinta sebelum akhirnya kemudian arwah beliau terbang bersama malaikat menuju ke pangkuan-Nya.
Terbang pula bersama kebohongan-kebohongan penuh kebajikan yang telah beliau suguhkan untukku dan kakakku demi membesarkan hati kami, buah hati yang telah beliau rawat dengan kasihnya yang penuh keabadian.
* * *
Ket :
Bedeq : Anyaman bambu
Inaq : Ibu
Tiyang : Aku
Berugak : Bangunan yang berada di samping rumah tradisional sasak
Cerpen "Inaqku Seorang Pembohong"
Siang yang terik menampakkan sinarnya dengan garang. Aku duduk berselonjor diberugaq dengan kakak semata wayangku, seraya menikmati angin sepoi yang dihembuskan oleh pohon nangka yang berdiri angkuh di samping berugaq, kami berdua pun menunggu kedatangan Inaq.
Berselang beberapa saat, bayangan Inaq pun mulai nampak dari kejauhan, yang disekelilingnya dipagari pohon-pohon raksasa hutan. Nampak Inaq memikul seikat kayu yang sudah diambilnya di dalam hitan, lantas terus menelusuri jalan setapak menuju berugaq tempat kami duduk sekarang. Melihat kedatangan Inaq, aku bersorak riang. Ku lihat wajah kakaku pun memancarkan kegirangan.
Sesampai di berugaq, Inaq langsung meletakkan kayu bakar bawaannya. Besok paginya barulah Inaq akan membawa kayu bakar tersebut ke pasar, kemudian dijual untuk membeli kebutuhan pangan sehari-hari. Inaq sudah berperan ganda bagi kami. Menjadi figur seorang Inaq yang penuh kasih sayang sekaligus menjadi figur seorang amaq yang penuh tanggung jawab dan selalu melindungi. Peran rangkap yang Inaq lakoni ini mulai beliau sandang setelah amaq kembali ke pangkuan Ilahi Rabbi.
“Inaq, tiyang lapar” seruku langsung pada Inaq begitu beliau meletakkan kayu bakar bawaannya.
Inaq langsung mengelus kepalaku lantas menciumi pipiku. Keringat yang mengucur di pelipisnya pun menempel di samping telingaku.
“Inaq akan memasakkan nasi untukmu, anakku” begitulah jawaban yang ku terima dari Inaq. Sebuah jawaban yang sungguh membuat hatiku berteriak girang, seiring dengan teriakan-teriakan kecil perutku yang sudah keroncongan.
Setelah berkata demikian, Inaq pun mengajak kami berdua masuk ke dalam gubuk. Sebuah gubuk berdinding bedeq dan beratap rumbia. Gubuk yang berada di tepian hutan di kaki Rinjani, sebuah gunung tertinggi di pulau Lombok.
Di dapur yang berada di bagian belakang rumah kami, Inaq menjejali tungku yang terbuat dari batu bata bersusun, dengan bilahan-bilahan kayu bakar. Setelah tungku menyala, Inaq pun menanak beras yang hanya dua genggam. Aku dan kakakku pun duduk menunggui di depan tungku.
Setelah nasi ditanaq Inaq matang, aku dan kakakku pun mulai makan. Seperti biasa, makan tanpa lauq apapun. Hanya dengan nasi yang disirami air putih kemudian ditaburi garam halus. Sesekali saja kami merasakan nikmatnya makan dengan lauq tempe, itupun jikalau kayu bakar yang Inaq jual laku banyak.
Aku dan kakakku mulai menyantap makan siang kami dengan lahapnya. Tidak peduli dengan makanan ala kadarnya itu. Sebab perut yang sudah terlampau keroncong dan lagi pula hidangan demikian sudah menjadi hidangan rutin yang kami santap setiap harinya. Tak ada gunanya pula aku minta terlalu muluk dengan lauq-lauq yang ku inginkan pada Inaq, sebab ku tahu Inaq selalu saja berbohong padaku.
Kala itu aku pernah merengek minta dibelikan lauq ikan laut. Tentunya dengan sikap kekanakanku yang penuh kemanjaan sebagai anak paling kecil pada Inaq. “Kalau ada uang, Inaq akan membelikannya untukmu” demikian jawaban Inaq yang cukup membesarkan hatiku. Aku girang bukan kepalang. Ku tunggu sampai Inaq memenuhi janjinya untukku. Namun telah sekian bulan waktu itu berlalu, Inaq tak jua membayar janjinya padaku. Kini aku tahu, sepertinya Inaq berbohong.
Kali ini saat menyantap makan siang bersama kakakku, Inaq tidak ikut serta. (akh…maaf, sepertinya tidak bisa disebut makan siang, lebih tepatnya makan harian. Karena memang, dalam sehari kami hanya makan satu kali saja, terkadnag pula saat kayu bakar yang Inaq jual tidak laku, kami tidak makan nasi sama sekali. Hanya cukup mengganjal perut dengan sepotong ubi rebus yang diambil dari dalam hutan).
“Inaq tidak ikut makan?”, tanya kakakku saat melihat Inaq tidak ikut nimbrung bersama kami yang makan pada satu piring
Inaq tersenyum lantas berkata “Makanlah nak, Inaq tidak lapar” demikianlah ucapan Inaq dibalik wajah letih yang coba beliau sembunyikan dari kami. Tatapan beliau sayu, namun tetap coba diperlihatkan dengan tatapan sebening mungkin. Wajah beliau nampak penat, namun tetap diperlihatkan sesegar mungkin padaku. Tubuh beliau nampak lelah, namun tetap diperlihatkan sebugar mungkin dihadapan kami.
Setelah makang siang, Inaq mengajak kami untuk shalar dzuhur. Kami berwudhu di sumur belakang rumah. Inaq yang menimbakan air untuk kami berdua, buah hati beliau yang memang masih terlalu kecil-kecil untuk menerima getirnya hidup ini. Kakakku berumur sembilan tahun sementara aku sendiri masih berumur tujuh tahun. Meskin belum tahu pasti bagaimana getirnya hidup yang kami hadapi, namun sudah merasakan bagaimana pahitnya jalan yang tengah kami lewati. Kepahitan-kepahitan itu sudah mulai kami rasakan disaat harus menahan lapar seharian. Kalaupun makan hanya sekali dalam sehari, makan dengan ala kadarnya saja. Perasaan ingin ikut serta saat melihat anak-anak desa lainnya berlarian menuju sekolah, sementara kami tak pernah mampu seperti mereka yang demikian.
Habis berwudhu aku, Inaq dan kakakku bergantian shalat dzuhur, sebab mukena yang kami miliki hanyalah sebuah. Itupun sudah sangat lusuh. Seusai shalat pun tak lupa Inaq selalu mengajak kami untuk memanjatkan doa pada Rabb semesta alam.
“Anak-anakku, setelah kita harus berdoa pada Allah SWT. Memanjatkan syukur atas nikmat yang dia berikan untuk kita” ucap Inaq seraya mengangkat kedua tangannya dengan posisi menengadah ke atas, seraya aku dan kakakku mengamini.
* * *
Suara binatang malam bersahutan. Gubukku terselubung temaram dengan cahaya redup lampu tempel. Mataku terbuka perlahan. Aku baru saja terbangun dari mimpi indahku. Pikirku ini sudah subuh buta, ternyata hari masih tenggelam dalam larut malamnya. Ku tengok sebelah tempat tidurku, tidak ada orang yang kucari. Mestinya Inaqlah yang berbaring tidur di tempat itu. Lantas kemana beliau pergi malam hari begini? Aku bangun dari pembariangan. Menyeok langkah ke ruang depan. Kudapati pula Inaqku sedang duduk beralas tikar lusuh sedang menganyam daun pandan menjadi tikar.
“Inaq tidak tidur?” tanyaku. Mimik wajah beliau terlihat kaget dengan kedatanganku.
“Mengapa kamu bangun dini hari begini, nak? Tidurlah, Inaq belum mengantuk” jawab beliau dibalik tatapan mata yang sembab dan sayu serta terlihat cukup mengantuk. “Tidurlah di samping Inaq, anakku, Inaq masih harus menyelesaikan anyaman tikar ini agar besok bisa dijual di pasar” lanjut Inaq. Tak urung, akupun mengikuti perintah Inaq, tidur di samping beliau. Terbang kembali bersama alam mimpiku.
* * *
Inaq terbaring lemah di atas pembaringan reot dan sudah termakan rayap. Berselimut lusuh. Aku dan kakakku duduk bersisian di samping Inaq. Kakak memijiti kaki Inaq perlahan, sementara aku memijiti lengan beliau. Ku rasakan suhu badan Inaq terasa panas. Menyaksikan tubuh paruh baya itu terbaring lemah tak berdaya, butiran bening perlahan mengalir di kelopak mataku.
“Jangan menangis nak, Inaq tidak merasa sakit” ucapan lemah itu keluar dari mulut perempuan yang selama ini telah kupanggil Inaq dengan penuh kasih. Meski usia paruh baya yang menggelayuti umur Inaq dengan kulit wajahnya yang tak lagi segar, namun dibalik itu pesona kasih yang beliau pancarkan selalu saja nampak kian bersinar layaknya intan bagi kami.
* * *
Kuntum kamboja gugur perlahan di atas gundukan tanah yang masih merah. Tanganku tengadah ke atas. Sementara butiran bening yang menganak sungai mengaliri pipiku. Di bawah gundukan tanah itu telah bersemayam tubuh seorang hawa yang telah merawat dan membesarkanku dengan segenap cintanya. Meski di balik itu pula Inaq sudah seringkali berbohong padaku.
“Makanlah, nak. Inaq tidak lapar” ucap beliau. Padahal ku tahu seharian itu belum ada makanan yang masuk ke perut beliau.
“Tidurlah, nak, Inaq belum mengantuk” ucap beliau demi menyelesaikan anyaman tikar agar bisa dijual untuk kemudian membelikan beras untuk kami. Padahal aku tahu mata beliau terlihat sembab dan mengantuk.
“Jangan menangis, nak. Inaq tidak merasa sakit” ucap beliau membesarkan hatiku saat beliau terbaring lemah. Padahal aku ingat betul. Setelah mengucapkan kata demikian terdengar halus syahadatain yang beliau baca. Lantas Inaq pun memejamkan matanya, melepaskan genggaman tangannya dipergelangan tanganku, serta mengembangkan sebuah senyuman penuh cinta sebelum akhirnya kemudian arwah beliau terbang bersama malaikat menuju ke pangkuan-Nya.
Terbang pula bersama kebohongan-kebohongan penuh kebajikan yang telah beliau suguhkan untukku dan kakakku demi membesarkan hati kami, buah hati yang telah beliau rawat dengan kasihnya yang penuh keabadian.
* * *
Ket :
Bedeq : Anyaman bambu
Inaq : Ibu
Tiyang : Aku
Berugak : Bangunan yang berada di samping rumah tradisional sasak
Berselang beberapa saat, bayangan Inaq pun mulai nampak dari kejauhan, yang disekelilingnya dipagari pohon-pohon raksasa hutan. Nampak Inaq memikul seikat kayu yang sudah diambilnya di dalam hitan, lantas terus menelusuri jalan setapak menuju berugaq tempat kami duduk sekarang. Melihat kedatangan Inaq, aku bersorak riang. Ku lihat wajah kakaku pun memancarkan kegirangan.
Sesampai di berugaq, Inaq langsung meletakkan kayu bakar bawaannya. Besok paginya barulah Inaq akan membawa kayu bakar tersebut ke pasar, kemudian dijual untuk membeli kebutuhan pangan sehari-hari. Inaq sudah berperan ganda bagi kami. Menjadi figur seorang Inaq yang penuh kasih sayang sekaligus menjadi figur seorang amaq yang penuh tanggung jawab dan selalu melindungi. Peran rangkap yang Inaq lakoni ini mulai beliau sandang setelah amaq kembali ke pangkuan Ilahi Rabbi.
“Inaq, tiyang lapar” seruku langsung pada Inaq begitu beliau meletakkan kayu bakar bawaannya.
Inaq langsung mengelus kepalaku lantas menciumi pipiku. Keringat yang mengucur di pelipisnya pun menempel di samping telingaku.
“Inaq akan memasakkan nasi untukmu, anakku” begitulah jawaban yang ku terima dari Inaq. Sebuah jawaban yang sungguh membuat hatiku berteriak girang, seiring dengan teriakan-teriakan kecil perutku yang sudah keroncongan.
Setelah berkata demikian, Inaq pun mengajak kami berdua masuk ke dalam gubuk. Sebuah gubuk berdinding bedeq dan beratap rumbia. Gubuk yang berada di tepian hutan di kaki Rinjani, sebuah gunung tertinggi di pulau Lombok.
Di dapur yang berada di bagian belakang rumah kami, Inaq menjejali tungku yang terbuat dari batu bata bersusun, dengan bilahan-bilahan kayu bakar. Setelah tungku menyala, Inaq pun menanak beras yang hanya dua genggam. Aku dan kakakku pun duduk menunggui di depan tungku.
Setelah nasi ditanaq Inaq matang, aku dan kakakku pun mulai makan. Seperti biasa, makan tanpa lauq apapun. Hanya dengan nasi yang disirami air putih kemudian ditaburi garam halus. Sesekali saja kami merasakan nikmatnya makan dengan lauq tempe, itupun jikalau kayu bakar yang Inaq jual laku banyak.
Aku dan kakakku mulai menyantap makan siang kami dengan lahapnya. Tidak peduli dengan makanan ala kadarnya itu. Sebab perut yang sudah terlampau keroncong dan lagi pula hidangan demikian sudah menjadi hidangan rutin yang kami santap setiap harinya. Tak ada gunanya pula aku minta terlalu muluk dengan lauq-lauq yang ku inginkan pada Inaq, sebab ku tahu Inaq selalu saja berbohong padaku.
Kala itu aku pernah merengek minta dibelikan lauq ikan laut. Tentunya dengan sikap kekanakanku yang penuh kemanjaan sebagai anak paling kecil pada Inaq. “Kalau ada uang, Inaq akan membelikannya untukmu” demikian jawaban Inaq yang cukup membesarkan hatiku. Aku girang bukan kepalang. Ku tunggu sampai Inaq memenuhi janjinya untukku. Namun telah sekian bulan waktu itu berlalu, Inaq tak jua membayar janjinya padaku. Kini aku tahu, sepertinya Inaq berbohong.
Kali ini saat menyantap makan siang bersama kakakku, Inaq tidak ikut serta. (akh…maaf, sepertinya tidak bisa disebut makan siang, lebih tepatnya makan harian. Karena memang, dalam sehari kami hanya makan satu kali saja, terkadnag pula saat kayu bakar yang Inaq jual tidak laku, kami tidak makan nasi sama sekali. Hanya cukup mengganjal perut dengan sepotong ubi rebus yang diambil dari dalam hutan).
“Inaq tidak ikut makan?”, tanya kakakku saat melihat Inaq tidak ikut nimbrung bersama kami yang makan pada satu piring
Inaq tersenyum lantas berkata “Makanlah nak, Inaq tidak lapar” demikianlah ucapan Inaq dibalik wajah letih yang coba beliau sembunyikan dari kami. Tatapan beliau sayu, namun tetap coba diperlihatkan dengan tatapan sebening mungkin. Wajah beliau nampak penat, namun tetap diperlihatkan sesegar mungkin padaku. Tubuh beliau nampak lelah, namun tetap diperlihatkan sebugar mungkin dihadapan kami.
Setelah makang siang, Inaq mengajak kami untuk shalar dzuhur. Kami berwudhu di sumur belakang rumah. Inaq yang menimbakan air untuk kami berdua, buah hati beliau yang memang masih terlalu kecil-kecil untuk menerima getirnya hidup ini. Kakakku berumur sembilan tahun sementara aku sendiri masih berumur tujuh tahun. Meskin belum tahu pasti bagaimana getirnya hidup yang kami hadapi, namun sudah merasakan bagaimana pahitnya jalan yang tengah kami lewati. Kepahitan-kepahitan itu sudah mulai kami rasakan disaat harus menahan lapar seharian. Kalaupun makan hanya sekali dalam sehari, makan dengan ala kadarnya saja. Perasaan ingin ikut serta saat melihat anak-anak desa lainnya berlarian menuju sekolah, sementara kami tak pernah mampu seperti mereka yang demikian.
Habis berwudhu aku, Inaq dan kakakku bergantian shalat dzuhur, sebab mukena yang kami miliki hanyalah sebuah. Itupun sudah sangat lusuh. Seusai shalat pun tak lupa Inaq selalu mengajak kami untuk memanjatkan doa pada Rabb semesta alam.
“Anak-anakku, setelah kita harus berdoa pada Allah SWT. Memanjatkan syukur atas nikmat yang dia berikan untuk kita” ucap Inaq seraya mengangkat kedua tangannya dengan posisi menengadah ke atas, seraya aku dan kakakku mengamini.
* * *
Suara binatang malam bersahutan. Gubukku terselubung temaram dengan cahaya redup lampu tempel. Mataku terbuka perlahan. Aku baru saja terbangun dari mimpi indahku. Pikirku ini sudah subuh buta, ternyata hari masih tenggelam dalam larut malamnya. Ku tengok sebelah tempat tidurku, tidak ada orang yang kucari. Mestinya Inaqlah yang berbaring tidur di tempat itu. Lantas kemana beliau pergi malam hari begini? Aku bangun dari pembariangan. Menyeok langkah ke ruang depan. Kudapati pula Inaqku sedang duduk beralas tikar lusuh sedang menganyam daun pandan menjadi tikar.
“Inaq tidak tidur?” tanyaku. Mimik wajah beliau terlihat kaget dengan kedatanganku.
“Mengapa kamu bangun dini hari begini, nak? Tidurlah, Inaq belum mengantuk” jawab beliau dibalik tatapan mata yang sembab dan sayu serta terlihat cukup mengantuk. “Tidurlah di samping Inaq, anakku, Inaq masih harus menyelesaikan anyaman tikar ini agar besok bisa dijual di pasar” lanjut Inaq. Tak urung, akupun mengikuti perintah Inaq, tidur di samping beliau. Terbang kembali bersama alam mimpiku.
* * *
Inaq terbaring lemah di atas pembaringan reot dan sudah termakan rayap. Berselimut lusuh. Aku dan kakakku duduk bersisian di samping Inaq. Kakak memijiti kaki Inaq perlahan, sementara aku memijiti lengan beliau. Ku rasakan suhu badan Inaq terasa panas. Menyaksikan tubuh paruh baya itu terbaring lemah tak berdaya, butiran bening perlahan mengalir di kelopak mataku.
“Jangan menangis nak, Inaq tidak merasa sakit” ucapan lemah itu keluar dari mulut perempuan yang selama ini telah kupanggil Inaq dengan penuh kasih. Meski usia paruh baya yang menggelayuti umur Inaq dengan kulit wajahnya yang tak lagi segar, namun dibalik itu pesona kasih yang beliau pancarkan selalu saja nampak kian bersinar layaknya intan bagi kami.
* * *
Kuntum kamboja gugur perlahan di atas gundukan tanah yang masih merah. Tanganku tengadah ke atas. Sementara butiran bening yang menganak sungai mengaliri pipiku. Di bawah gundukan tanah itu telah bersemayam tubuh seorang hawa yang telah merawat dan membesarkanku dengan segenap cintanya. Meski di balik itu pula Inaq sudah seringkali berbohong padaku.
“Makanlah, nak. Inaq tidak lapar” ucap beliau. Padahal ku tahu seharian itu belum ada makanan yang masuk ke perut beliau.
“Tidurlah, nak, Inaq belum mengantuk” ucap beliau demi menyelesaikan anyaman tikar agar bisa dijual untuk kemudian membelikan beras untuk kami. Padahal aku tahu mata beliau terlihat sembab dan mengantuk.
“Jangan menangis, nak. Inaq tidak merasa sakit” ucap beliau membesarkan hatiku saat beliau terbaring lemah. Padahal aku ingat betul. Setelah mengucapkan kata demikian terdengar halus syahadatain yang beliau baca. Lantas Inaq pun memejamkan matanya, melepaskan genggaman tangannya dipergelangan tanganku, serta mengembangkan sebuah senyuman penuh cinta sebelum akhirnya kemudian arwah beliau terbang bersama malaikat menuju ke pangkuan-Nya.
Terbang pula bersama kebohongan-kebohongan penuh kebajikan yang telah beliau suguhkan untukku dan kakakku demi membesarkan hati kami, buah hati yang telah beliau rawat dengan kasihnya yang penuh keabadian.
* * *
Ket :
Bedeq : Anyaman bambu
Inaq : Ibu
Tiyang : Aku
Berugak : Bangunan yang berada di samping rumah tradisional sasak
Cerpen "Dedare Sasak"
Semilir angin pantai manerpa wajahku. Angin sepoi pun membelai rambut seorang dedare yang kini tengah duduk disampingku dengan lembut. Dedare bak bidadari dihatiku. Rambut panjangnya yang lurus tergerai, bibir tipis dan mata sipit yang membuat aku mabuk kepayang. Dan satu hal lagi, pribadi dan hatinya yang bagai emas itu pulalah yang membuat aku bertambah tergila – gila padanya.
Semilir angin pantai menerpa wajahku kembali. Duduk bersanding berdua dengan seseorang yang telah mampu mengikat hatiku. Pantai Senggigi, pantai di Pulau Lombok yang terkenal dengan pasir putih dan panorama keindahan alamnya yang kini ku jadikan tempat duduk berdua dengan Baiq Mandalika, dedare sasak yang telah menyihir hatiku oleh parasnya.
Duduk berdua di bibir pantai dengan dedare sasak kekasih hatiku. Membiarkan kaki kami dijilati buih – buih ombak. Aku dan dia benar – benar menyatu dalam suasana sore di bibir pantai yang begitu indah. Aku dan dia satu hati, satu cinta. Walau sebenarnya aku dan dia berbeda. Dia adalah keturunan bangsawan masyarakat sasak. Sedangkan aku hanyalah seorang anak petani miskin yang hidupnya pas – pasan. Aku dan dia memang begitu jauh jika dipandang dari stratifikasi sosial. Namun memandang dari sebuah sudut yeng bernama cinta dan kasih sayang, hatiku dan dia bagitu dekat.
Jika ku ingat awal kejadian lima bulan lalu, awal kejadian dimana aku untuk pertama kalinya seolah bertemu dengan dewi yang turun dari kayangan.
Waktu itu ia tengah jalan – jalan sore menikmati hamparan sawah – sawah yang menghijau. Entah brandal – brandal dari mana yang tiba – tiba datang mengganggunnya. Bahkan berani sekali mulai mencoleki tubuhnya. Aku yang waktu itu sedang membantu Amaq bekerja di sawah tentu saja geram melihat kajadian tersebut. Apalagi aku memang paling tak suka melihat kaum hawa disakiti. Dengan modal bela diri yang ku miliki, akhirnya keempat brandal tadi berhasil ku buat lari tunggang langgang.
“Terima kasih”, itulah ucapan yang keluar dari mulut dedare yang baru saja ku bantu dari ganguan para brandal.
“Sama – sama. Lain kali kalau mau jalan – jalan ajaklah barang seorang atau dua orang teman agar lebih aman”, aku menanggapi ucapannya.
Ia mengangguk seraya menyunggingkan senyuman.
“Oya, perkenalkan nama saya Mandalika. Kamu sendiri siapa ?”, ia kemudian bertanya sambil mengulurkan tangan kearahku.
“Nama saya Mustafa. Senang berkenalan denganmu”, ucapku membalas uluran tangannya. “Oya, bagaimana kalau kamu mampir sebentar ke sawahku. Kemudian duduk – duduk di bebaleq sambil makan ubi rebus dan teh hangat. Maukan ?”, aku menawarinya.
Ia pun mengangguk tanda setuju. Kemudian mengekor di belakangku menuju bebaleq yang letaknya berada di samping telaga ikan dekat petak sawah.
Sesampai di bebaleq aku mempersilahkannya untuk menyantap ubi rebus dan teh hangat yang ku bawa tadi bersama Amaq dari rumah.
“Ayo Mandalika, di makan saja ubi rebusnya. Jangan malu – malu. Tapi maaf sebelumnya, hanyala inilah makanan ynag ada. Maklumlah makanan orang miskin”, ujarku padanya. Karena jika ku perhatikan dari penampilan dan cara berpakainnya, ku yakin ia orang kaya.
“Akh…kamu bisa saja. Ada ubi rebus pun syukur. Dari pada tidak ada sama sekali. Syukur pula kalau kita masih bisa makan ubi rebus. Sedangkan di luar sana masih banyak kan saudara – saudara kita yang bahkan menderita kelaparan?”, ujarnya memberi sedikit petuah untukku seraya memasukkan potongan ubi rebus ke mulutnya yang diselingi dengan senyuman yang tersungging begitu manis.
Berselang beberapa menit kemudian, Amaq pun datang, baru saja menyelesaikan pekerjaan di sawah.
Begitu Amaq datang, sebuah niat sudah terpatri di dalam hatiku. Aku berniat akan memperkenalkan Mandalika pada Amaq. Namun rupanya aku kecolongan. Amaq telah lebih dahulu mengenal Mandalika.
“Baiq ?”, Amaq tiba – tiba mengucapkan gelar itu pada Mandalika. Beliau seolah tak percaya kalau yang sekarang berada di hadapannya adalah seorang Baiq Mandalika. (Baiq adalah gelar kebangsawanan masyarakat sasak untuk kaum wanita).
“Tuaq ?” , Mandalika juga seolah tak percaya dengan kehadiran Amaq kini di depan matanya. Mandalika memanggil dengan sebutan Tuaq pada Amaqku. (Tuaq dalam bahasa sasak berarti ‘paman’)
“Baiq sedang apa di sini bersama Mustafa ?. Baiq, Mustafa ini anak Tuaq. Bagaimana mungkin sekarang kalian bisa saling mengenal?.”
“Jadi, Mustafa ini anak Tuaq ?, kenapa Tuaq tidak pernah cerita pada saya kalau ternyata Tuaq punya anak laki – laki yang seumuran dengan saya ?. Mengenai kenalnya saya dengan Mustafa, ini berawal dari bantuan Mustafa yang telah menolong saya waktu tadi diganggu oleh brandalan”, Mandalika menjelaskan pada Amaq.
Sementara Amaq dan Mandalika berbincang – bincang, aku hanya bisa diam. Aku tidak mengerti dengan keadaan ini. Mengapa Amaq dan Mandalika bisa begitu akrab?. Dan satu lagi, tadi Mandalika tidak menyebutkan gelar kebangsawanannya waktu memperkenalkan diri padaku. Ku perhatikan sedari tadi, dedare yang satu ini memang benar – benar memancarkan kebaikan dan kerendahan hati. Lebih – lebih ia juga tak menolak saat ku tawari makanan yang hanya sebatas ubi rebus.
“Baiq, sepertinya hari sudah petang. Sebaiknya sekarang kita pulang”.
“Mustafa, kita mengambil jalan memutar untuk pulang agar bisa mangantarkan baiq Mandalika dulu ke rumahnya”, ujar Amaq kemudian padaku.
“Baik, Amaq”.
Aku dan amaq pun mengambil jalan memutar agar bisa mengantarkan Mandalika dulu sampai ke rumahnya. Setelah Mandalika sampai di rumahnya barulah aku mengerti mengapa Amaq dan Mandalika begitu akrab. Mandalika rupanya adalah putri dari Pak Lurah, tempat Amaq bekerja sejak belasan tahun yang lalu, bahkan sebelum Mamiq Mandalika menjabat menjadi seorang lurah.
“Terimakasih ya Tuaq sudah mengantarkan saya pulang. Mustafa juga, terimakasih sekali lagi karena sudah membantu saya tadi”, ucap Baiq Mandalika sambil kemudian masuk ke dalam rumah.
“Amaq, mengapa amaq tidak pernah cerita pada saya kalau ternyata Pak Lurah mempunyai seorang anak dedare seperti Baiq Mandalika?”, tanyaku komplin pada Amaq.
“Bagaimana mungkin Amaq akan berecerita padamu sementara kamu sendiri tidak pernah bertanya. Toh juga hal itu tidak terlalu penting kan?”.
Jawaban Amaq cukup membuatku terdiam tanpa tahu harus bertanya apa lagi.
***
Keesokan paginya…
“Amaq, hari ini saya mau ikut bekerja bersama Amaq di rumahnya Baiq Mandalika eh…di rumah Pak Lurah”, ucapku memelas pada Amaq agar diizinkan.
“Mimpi apa kamu semalam?. Biasanya juga walaupun Amaq minta agar kamu ikut dengan Amaq bekerja di rumahnya Pak Lurah, paling juga kamu menjawab lebih enak tidur”.
“Yah…sekarang lain Amaq. Saya mau katemu sama Mandalika. Dari pada di rumah tidak ada pekerjaan. Kan lebih baik ikut Amaq bekerja di rumah Pak Lurah. Boleh ya, Amaq?”, aku merayu.
“Ya sudah, kamu boleh ikut dengan Amaq. Dengan satu syarat, kamu tidak boleh terlalau dekat dengan Baiq Mandalika.
“Maksud Amaq?”, aku tak mengerti.
“Kamu dan Baiq Mandalika hanyalah sebatas teman, tidak boleh lebih dari itu”.
“Tidak boleh lebih dari sekedar teman?”, aku bertambah bingung dengan penjelasan Amaq.
“Kamu pasti akan mengerti juga. Mustafa, Amaq pernah mengalami masa remaja usia tujuh belasan tahun sepertimu kini. Amaq harap tidak akan ada perasaan lebih di hatimu untuk Baiq Mandalika. Ingat Mustafa, kamu dan Baiq Mandalika berbeda jauh. Baiq Mandalika itu keturunan bangsawan, sedangkan kamu hanyalah anak Amaq yang hidupnya miskin dan pas – pasan. Jangan sampai ada sesuatu di hatimu untuk Baiq Mandalika, atau kelak kau yang akan merasa sakit oleh perasaan itu sendiri”.
“Ya Amaq, saya mengerti”, ucapku menanggapi perkataan Amaq.
Kejadiannya berlangsung selama satu bulan, aku wajib ikut dengan Amaq untuk bekerja di rumah Pak Lurah sebagai tukang kebun. Biasanya Baiq Mandalika pun terlihat menyirami bunga – bunga tanamannya. Dalam keadaan seperti inilah aku mencuri pandang. Biasanya selalu ku perhatikan kemolekan wajahnya. Saat tiba – tiba pandangan kami beradu pun ia biasanya tersipu malu dengan wajah yang merona memerah. Sebulan itulah aku mulai merasakan getaran lain dalam dadaku jika bertemu dengan Baiq Mandalika. Jangankan bertemu dengannya, membayangkan wajahnya pun perasaanku pasti langsung berubah jadi tak karuan. Jantungku rasanya berdetak keras sedangkan darahku mengalir dengan derasnya. Lebih – lebih Baiq Mandalika pun sering sekali hadir sebagai bunga dalam tidurku, hadir dalam mimpiku.
Tak bisa ku pungkiri, di usiaku yang masih remaja ini, usia tujuh belasan tahun aku merasakan suatu gatar asa. Suatu getar yang biasa di katakan orang, bernama ‘cinta’. Ya…getar asa itu adalah getar cinta. Aku telah terlanjur jatuh cinta pada Baiq Mandalika.
Satu minggu kemudian, tak tahan menahan dan memendam gejolak yang timbul dalam dada, aku pun mencoba menumpahkan segalanya pada orang yang telah mampu menciptakan perasaan itu dalam diriku.
Ketika ku coba untuk mengutarakan perasaanku pada Baiq Mandalika, ternyata semuanya tak sia – sia. Gayung cintaku tersambut. Cintaku tak bertepuk sebelah tangan. Hingga akhirnya aku dan Baiq Mandalika pun menjalin hubungan asmara. Namun hubungan yang jelas – jelas dilakukan secara sembunyi – sembunyi. Aku tidak ingin Amaqku tahu tentang hubunganku dengan Baiq Mandalika. Sebab, beberapa waktu silam Amaq sudah memperingatkanku agar tak menaruh perasaan lebih pada Baiq Mandalika. Namun harus bagaimana lagi, jika hati sudah terpaut, perasaan pun tak bisa dipungkiri.
Begitu juga dengan Baiq Mandalika, aku melarangnya menceritakan hubungan ini pada Mamiqnya. Aku tahu, Mamiq Mandalika pasti tidak menyetujui hubungan kami, disebabkan oleh jurang derajat pemisah yang begitu dalam.
***
Sebulan kemudian menjalani hubungan secara rahasia, akhirnya Amaqku dan Mamiq Mandalika tahu juga dengan hubungan kami.
Jelas sajalah apa yang terjadi. Baik aku maupun Mandalika diwanti – wanti oleh orang tua masing – masing.
“Baiq Mandalika, dengarkan Mamiq. Mamiq tidak setuju kalau kamu menjalin hubungan dengan Mustafa. Dia itu hanyalah seorang anak tukang kebun di sini. Di luar sana masih begitu banyak pemuda yang lebih terhormat dari dia. Pilih saja sesuka hatimu. Mamiq pasti akan merestui hubungan kalian. Asal satu catatan, kamu tidak boleh berhubungan dengan Mustafa. Lagipula dia hanyalah keturunan dari masyarakat biasa tanpa gelar kebangsawanan satu pun melekat di depan namanya”, begitulah wanti - wanti yang biasa diterima oleh Baiq Mandalika. Sementara itu Baiq Mandalika pun hanya bisa menangis.
Demikianlah yang aku ketahui, sebab Baiq Mandalika seringkali bercerita padaku tentang wanti – wanti yang biasa dilontarkan oleh mamiqnya.
Kejadian yang dialami Baiq Mandalika pun tak berbeda jauh dengan yang aku alami. Amaq juga sering mewanti – wantiku agar tak lagi berhubungan dengan Baiq Mandalika.
“Amaq sudah tidak mau lagi mendengar bahwa kamu dan Baiq Mandalika masih mempunyai hubungan. Lebih baik cari gadis lain yang sederajat dengan kita. Baiq Mandalika itu terlalu tinggai untuk kau raih , anakku. Ia seoraang keturunan bangsawan, sementara kau sendiri hanyalah keturunan dari kalangan masyarakat biasa”, itulah wanti – wanti yang biasa ku terima dari Amaq.
Aku dan Baiq Mandalika sudah berpuluh – puluh kali diperingati oleh orang tua masing – masing agar tak lagi saling mencintai dan menjalin hubungan asmara. Namun rupanya cintaku dengan Baiq Mandalika begitu kuat hingga badai sebesar apapun datang melanda, cinta kami takkan peernah goyah. Peringatan dari orang tua masing – masing kami acuhkan. Kami tetap menjalni hubungan asmara ini dengan harmonis. Dengan tetap berharap semoga kelak hubungan kami pun direstui.
Lima bulan kemudian…
Menjalin hubungan dengan kekangan dari orang tua sungguh sautu beban yang berat. Namun aku dan Baiq Mandalika akan terus mencoba mempertahankan hubungan ini.
Dan hingga kini pun hubungan itu tetap kami pegang erat.
Akh… semilir angin pantai menerpa wajahku. Membuyarkan lamunan alam ingatan tentang flash back kejadian lima bulan lalu, awal aku bertamu Baiq Mandalika hingga kini ia menjadi kekasih hatiku. Duduk bersanding berdua denganku di bibir pantai Senggigi menikmati panorama keindahan alam ciptaan Tuhan.
“Mustafa, Baiq Mandalika”, sebuah suara memanggil namaku dan Baiq Mandalika. Suara itu suara yang begitu ku kenal. Suara Amaq.
Serentak, aku dan Baiq Mandalika pun menoleh, dan benar saja, Amaq sudah berdiri di belakang kami.
“Mustafa, ikut Amaq pulang. Ajak Baiq Mandalika ikut serta” , tanpa menunggu lama Amaq melontarkan kalimat tadi. Aku dan Baiq Mandalika bingung denagan sikap Amaq. Namun kami pun hanya bisa mengekor dari belakang, mengikuti perintah Amaq.
Sesampai di rumah, tanpa kami sangka sebelumnya ternyata Mamiq Mandalika juga sudah ada di dalam rumah. Aku kaget bukan kepalang. Di otakku telah timbul pikiran – pikiran miring tentang sesuatu yang akan terjadi. Pastinya kami akan diwanti habis – habisan dan akan dipisahkan untuk selamanya. Akh…aku tak bisa membayangkan jika harus kehilangan Baiq Mandalika.
Begitu pula perubahan raut wajah yang sempat ku perhatikan pada Baiq Mandalika. Wajahnya terlihat pusat pasi dan ia juga nampak sedikit gemetaran. Mungkin pikiran yang saat ini berkecamuk dalam pikiranku juga berkecamuk di alam pikirannya.
“Mustafa, Baiq Mandalika, duduklah”, Amaq mempersilahkan kami berdua duduk.
Amaq pun kemudian melanjutkan.
“Mustafa, Baiq Mandalika. Sebelumnya Amaq ingin minta maaf pada kalian jika akan menceritakan suatu hal pada kalian. Hal yang sudah seharusnya kalian ketahui”, Amaq mengucapkan kata – kata tadi dengan penuh kerahasiaan.
Amaq kemudian membuka kotak kayu kecil berukiran khas Lombok. Isi dalam kotak itu adalah sepasang kalung bertali hitam dan barbando berbentuk huruf ‘V’ terbalik. Sepertinya bando kalung itu terbuat dari magnet. Amaq mencoba menyatukan kedua kalung tersebut. Ternyata perpaduan bando kedua kalung yang tadi disatukan Amaq membentuk huruf ‘M’.
Baru kemudian Amaq mulai bercerita
“Tujuh belas tahun lalu, tepat saat bulan purnama, Amaq dikaruniai dua orang anak kembar. Kedua anak kembari tulah yang memiliki kalung ini. Kemudian ada seorang saudagar kaya yang belum dikaruniai seorang momongan pun walau sudah menikah selama sepuluh tahun. Ia begitu berhasrat untuk memilki seorang anak. Walau mungkin harus mengasuh anak angkat.
Saat mengetahui Amaq dikaruniai dua orang anak kembar, saudagar tadi datang pada Amaq untuk meminta salah seorang dari anak kembar yang Amaq milki. Setelah satu minggu dipikir – pikir akhirnya Amaq manyetujui juga keinginan saudagar tadi. Amaq pun akhirnya memberikan salah seorang dari anak kembar yang Amaq miliki.
Bukan tidak ada alasan yang mendasar mengapa Amaq rela salah satu anak Amaq dijadikan sebagai anak angkat oleh saudagar tadi. Keadaan ekonomi, itulah alasan paling mendasar. Amaq tidak sanggup jika harus mananggung biaya hidup kedua anak tadi hingga besar. Penghasilah Amaq waktu itu juga masih tak seberapa. Lagipula Amaq juga ingin salah satu dari Amaq anak bisa merasakan hidup bahagia menikmati kemewahan, itulah sebabnya Amaq rela anak Amaq dijadikan sebagai anak angkat oleh saudagar yang kaya, dengan harapan agar ia bisa hidup mewah dan serba berkecukupan.
Sebenarnya, saat mengangkat salah satu anak Amaq, saudagar tadi menawarkan sebuah rumah dan beberapa petak sawah sebagai tanda terima kasih, namun Amaq menolaknya dengan halus. Amaq justru minta untuk dipekerjakan di rumah saudagar tadi agar Amaq tetap bisa memantau dan melihat keadaan anak Amaq yang ada pada saudagar. Satu lagi permintaan Amaq pada saudagar tadi, Amaq hanya minta agar anak Amaq dirawat dan dijaga baik – baik serta mengakuinya sebagai anak kandungnya sendiri.”, Amaq sempat meneteskan air mata menceritakan kisah tadi.
Pikiranku galau, bukankah aku anak Amaq?, secara otomatis tentu anak kembar yang Amaq ceritakan tadi adalah aku. Lantas dimana saudara kembarku?. Begitu banyak pertanyaan berkecamuk dalam dadaku.
“Mustafa, Baiq Mandalika, kami berdua sebagai orang tua melarang hubungan asmara yang kalian jalin sebenarnya bukanlah semata - mata beralasan karena stratifikasi sosial di antara kalian. Melainkan suatu hal. Dan hal inilah yang sekarang harus kalian ketahui.
Mustafa, Baiq Mandalika, maaf jika Amaq pernah melarang keras hubungan kalian. Sebab, jika tidak dilarang, maka Amaq pulalah yang akan menanggung dosa dan murka Tuhan. Sebelumnya, mungkin rahasia ini tidak akan pernah Amaq buka dan ceritakan pada kalian seandainya saja kalian tidak bersikeras melanjutkan hubungan kalian.
Mustafa, Baiq Mandalika, anak kembar yang tadi Amaq ceritakan adalah kisah kalian berdua. Itulah sebabnya Amaq dan Mamiq menentang keras hubungan asmara yang kalian jalin. Alasannya bukan semata - mata karena perbedaan sosial. Hentikan sampai disini hubungan kalian sebagai sepasang kekasih tetapi lanjutkan sebagai sepasang adik kakak, karena kalian adalah saudara kembar, kalian adalah anak - anakku”, Amaq mengakhiri ucapannya.
Mendengar penjelasan Amaq tadi, jelas saja aku dan Baiq Mandalika terbelalak seolah tak percaya dengan apa yang kami dengar. Aku belum siap memutar hatiku dari mencintai Baiq Mandalika sebagai kekasih kemudian sekarang akan menjadi saudara, adik kembaranku. Begitu pulalah yang mungkin dirasakan Baiq Mandalika. Sepintas ku perhatikan butiran bening mengalir dari kelopak matanya membentuk aliran sungai kecil dikedua pipinya.
“Kakak”, tiba – tiba Baiq Mandaika memelukku seraya melontarkan panggilan kakak padaku.
Ku sambut pelukannya, bukan pelukan kepada seorang kekasih, tetapi mencoba memutar haluan hatiku, memeluknya sebagai seorang saudara kembarku. Aku harus mencoba membunuh perasaanku padanya sebagai seorang kekasih.
“Adikku”, bisikku ditelinganya.
***
Keterangan :
Dedare : dalam bahasa sasak berarti ‘gadis’
Sasak : suku asli pulau Lombok
Amaq : dalam bahasa sasak berarti ‘bapak’ (panggilan Amaq khusus untuk masyarakat non bangsawan/ masyarakat biasa di kalangan masyarakat sasak )
Bebaleq : rumah kecil beratap rumbia atau ilalang, berada di pinggiran petak sawah. Berfungsi sebagai tempat peristirahatan para petani setelah lelah bekerja di sawah
Tuaq : dalam bahasa sasak berarti ‘paman’
Mamiq : dalam bahasa sasak berarti ‘bapak’ (panggilan Mamiq khusus untuk masyarakat bangsawan di kalangan masyarakat sasak)
Semilir angin pantai menerpa wajahku kembali. Duduk bersanding berdua dengan seseorang yang telah mampu mengikat hatiku. Pantai Senggigi, pantai di Pulau Lombok yang terkenal dengan pasir putih dan panorama keindahan alamnya yang kini ku jadikan tempat duduk berdua dengan Baiq Mandalika, dedare sasak yang telah menyihir hatiku oleh parasnya.
Duduk berdua di bibir pantai dengan dedare sasak kekasih hatiku. Membiarkan kaki kami dijilati buih – buih ombak. Aku dan dia benar – benar menyatu dalam suasana sore di bibir pantai yang begitu indah. Aku dan dia satu hati, satu cinta. Walau sebenarnya aku dan dia berbeda. Dia adalah keturunan bangsawan masyarakat sasak. Sedangkan aku hanyalah seorang anak petani miskin yang hidupnya pas – pasan. Aku dan dia memang begitu jauh jika dipandang dari stratifikasi sosial. Namun memandang dari sebuah sudut yeng bernama cinta dan kasih sayang, hatiku dan dia bagitu dekat.
Jika ku ingat awal kejadian lima bulan lalu, awal kejadian dimana aku untuk pertama kalinya seolah bertemu dengan dewi yang turun dari kayangan.
Waktu itu ia tengah jalan – jalan sore menikmati hamparan sawah – sawah yang menghijau. Entah brandal – brandal dari mana yang tiba – tiba datang mengganggunnya. Bahkan berani sekali mulai mencoleki tubuhnya. Aku yang waktu itu sedang membantu Amaq bekerja di sawah tentu saja geram melihat kajadian tersebut. Apalagi aku memang paling tak suka melihat kaum hawa disakiti. Dengan modal bela diri yang ku miliki, akhirnya keempat brandal tadi berhasil ku buat lari tunggang langgang.
“Terima kasih”, itulah ucapan yang keluar dari mulut dedare yang baru saja ku bantu dari ganguan para brandal.
“Sama – sama. Lain kali kalau mau jalan – jalan ajaklah barang seorang atau dua orang teman agar lebih aman”, aku menanggapi ucapannya.
Ia mengangguk seraya menyunggingkan senyuman.
“Oya, perkenalkan nama saya Mandalika. Kamu sendiri siapa ?”, ia kemudian bertanya sambil mengulurkan tangan kearahku.
“Nama saya Mustafa. Senang berkenalan denganmu”, ucapku membalas uluran tangannya. “Oya, bagaimana kalau kamu mampir sebentar ke sawahku. Kemudian duduk – duduk di bebaleq sambil makan ubi rebus dan teh hangat. Maukan ?”, aku menawarinya.
Ia pun mengangguk tanda setuju. Kemudian mengekor di belakangku menuju bebaleq yang letaknya berada di samping telaga ikan dekat petak sawah.
Sesampai di bebaleq aku mempersilahkannya untuk menyantap ubi rebus dan teh hangat yang ku bawa tadi bersama Amaq dari rumah.
“Ayo Mandalika, di makan saja ubi rebusnya. Jangan malu – malu. Tapi maaf sebelumnya, hanyala inilah makanan ynag ada. Maklumlah makanan orang miskin”, ujarku padanya. Karena jika ku perhatikan dari penampilan dan cara berpakainnya, ku yakin ia orang kaya.
“Akh…kamu bisa saja. Ada ubi rebus pun syukur. Dari pada tidak ada sama sekali. Syukur pula kalau kita masih bisa makan ubi rebus. Sedangkan di luar sana masih banyak kan saudara – saudara kita yang bahkan menderita kelaparan?”, ujarnya memberi sedikit petuah untukku seraya memasukkan potongan ubi rebus ke mulutnya yang diselingi dengan senyuman yang tersungging begitu manis.
Berselang beberapa menit kemudian, Amaq pun datang, baru saja menyelesaikan pekerjaan di sawah.
Begitu Amaq datang, sebuah niat sudah terpatri di dalam hatiku. Aku berniat akan memperkenalkan Mandalika pada Amaq. Namun rupanya aku kecolongan. Amaq telah lebih dahulu mengenal Mandalika.
“Baiq ?”, Amaq tiba – tiba mengucapkan gelar itu pada Mandalika. Beliau seolah tak percaya kalau yang sekarang berada di hadapannya adalah seorang Baiq Mandalika. (Baiq adalah gelar kebangsawanan masyarakat sasak untuk kaum wanita).
“Tuaq ?” , Mandalika juga seolah tak percaya dengan kehadiran Amaq kini di depan matanya. Mandalika memanggil dengan sebutan Tuaq pada Amaqku. (Tuaq dalam bahasa sasak berarti ‘paman’)
“Baiq sedang apa di sini bersama Mustafa ?. Baiq, Mustafa ini anak Tuaq. Bagaimana mungkin sekarang kalian bisa saling mengenal?.”
“Jadi, Mustafa ini anak Tuaq ?, kenapa Tuaq tidak pernah cerita pada saya kalau ternyata Tuaq punya anak laki – laki yang seumuran dengan saya ?. Mengenai kenalnya saya dengan Mustafa, ini berawal dari bantuan Mustafa yang telah menolong saya waktu tadi diganggu oleh brandalan”, Mandalika menjelaskan pada Amaq.
Sementara Amaq dan Mandalika berbincang – bincang, aku hanya bisa diam. Aku tidak mengerti dengan keadaan ini. Mengapa Amaq dan Mandalika bisa begitu akrab?. Dan satu lagi, tadi Mandalika tidak menyebutkan gelar kebangsawanannya waktu memperkenalkan diri padaku. Ku perhatikan sedari tadi, dedare yang satu ini memang benar – benar memancarkan kebaikan dan kerendahan hati. Lebih – lebih ia juga tak menolak saat ku tawari makanan yang hanya sebatas ubi rebus.
“Baiq, sepertinya hari sudah petang. Sebaiknya sekarang kita pulang”.
“Mustafa, kita mengambil jalan memutar untuk pulang agar bisa mangantarkan baiq Mandalika dulu ke rumahnya”, ujar Amaq kemudian padaku.
“Baik, Amaq”.
Aku dan amaq pun mengambil jalan memutar agar bisa mengantarkan Mandalika dulu sampai ke rumahnya. Setelah Mandalika sampai di rumahnya barulah aku mengerti mengapa Amaq dan Mandalika begitu akrab. Mandalika rupanya adalah putri dari Pak Lurah, tempat Amaq bekerja sejak belasan tahun yang lalu, bahkan sebelum Mamiq Mandalika menjabat menjadi seorang lurah.
“Terimakasih ya Tuaq sudah mengantarkan saya pulang. Mustafa juga, terimakasih sekali lagi karena sudah membantu saya tadi”, ucap Baiq Mandalika sambil kemudian masuk ke dalam rumah.
“Amaq, mengapa amaq tidak pernah cerita pada saya kalau ternyata Pak Lurah mempunyai seorang anak dedare seperti Baiq Mandalika?”, tanyaku komplin pada Amaq.
“Bagaimana mungkin Amaq akan berecerita padamu sementara kamu sendiri tidak pernah bertanya. Toh juga hal itu tidak terlalu penting kan?”.
Jawaban Amaq cukup membuatku terdiam tanpa tahu harus bertanya apa lagi.
***
Keesokan paginya…
“Amaq, hari ini saya mau ikut bekerja bersama Amaq di rumahnya Baiq Mandalika eh…di rumah Pak Lurah”, ucapku memelas pada Amaq agar diizinkan.
“Mimpi apa kamu semalam?. Biasanya juga walaupun Amaq minta agar kamu ikut dengan Amaq bekerja di rumahnya Pak Lurah, paling juga kamu menjawab lebih enak tidur”.
“Yah…sekarang lain Amaq. Saya mau katemu sama Mandalika. Dari pada di rumah tidak ada pekerjaan. Kan lebih baik ikut Amaq bekerja di rumah Pak Lurah. Boleh ya, Amaq?”, aku merayu.
“Ya sudah, kamu boleh ikut dengan Amaq. Dengan satu syarat, kamu tidak boleh terlalau dekat dengan Baiq Mandalika.
“Maksud Amaq?”, aku tak mengerti.
“Kamu dan Baiq Mandalika hanyalah sebatas teman, tidak boleh lebih dari itu”.
“Tidak boleh lebih dari sekedar teman?”, aku bertambah bingung dengan penjelasan Amaq.
“Kamu pasti akan mengerti juga. Mustafa, Amaq pernah mengalami masa remaja usia tujuh belasan tahun sepertimu kini. Amaq harap tidak akan ada perasaan lebih di hatimu untuk Baiq Mandalika. Ingat Mustafa, kamu dan Baiq Mandalika berbeda jauh. Baiq Mandalika itu keturunan bangsawan, sedangkan kamu hanyalah anak Amaq yang hidupnya miskin dan pas – pasan. Jangan sampai ada sesuatu di hatimu untuk Baiq Mandalika, atau kelak kau yang akan merasa sakit oleh perasaan itu sendiri”.
“Ya Amaq, saya mengerti”, ucapku menanggapi perkataan Amaq.
Kejadiannya berlangsung selama satu bulan, aku wajib ikut dengan Amaq untuk bekerja di rumah Pak Lurah sebagai tukang kebun. Biasanya Baiq Mandalika pun terlihat menyirami bunga – bunga tanamannya. Dalam keadaan seperti inilah aku mencuri pandang. Biasanya selalu ku perhatikan kemolekan wajahnya. Saat tiba – tiba pandangan kami beradu pun ia biasanya tersipu malu dengan wajah yang merona memerah. Sebulan itulah aku mulai merasakan getaran lain dalam dadaku jika bertemu dengan Baiq Mandalika. Jangankan bertemu dengannya, membayangkan wajahnya pun perasaanku pasti langsung berubah jadi tak karuan. Jantungku rasanya berdetak keras sedangkan darahku mengalir dengan derasnya. Lebih – lebih Baiq Mandalika pun sering sekali hadir sebagai bunga dalam tidurku, hadir dalam mimpiku.
Tak bisa ku pungkiri, di usiaku yang masih remaja ini, usia tujuh belasan tahun aku merasakan suatu gatar asa. Suatu getar yang biasa di katakan orang, bernama ‘cinta’. Ya…getar asa itu adalah getar cinta. Aku telah terlanjur jatuh cinta pada Baiq Mandalika.
Satu minggu kemudian, tak tahan menahan dan memendam gejolak yang timbul dalam dada, aku pun mencoba menumpahkan segalanya pada orang yang telah mampu menciptakan perasaan itu dalam diriku.
Ketika ku coba untuk mengutarakan perasaanku pada Baiq Mandalika, ternyata semuanya tak sia – sia. Gayung cintaku tersambut. Cintaku tak bertepuk sebelah tangan. Hingga akhirnya aku dan Baiq Mandalika pun menjalin hubungan asmara. Namun hubungan yang jelas – jelas dilakukan secara sembunyi – sembunyi. Aku tidak ingin Amaqku tahu tentang hubunganku dengan Baiq Mandalika. Sebab, beberapa waktu silam Amaq sudah memperingatkanku agar tak menaruh perasaan lebih pada Baiq Mandalika. Namun harus bagaimana lagi, jika hati sudah terpaut, perasaan pun tak bisa dipungkiri.
Begitu juga dengan Baiq Mandalika, aku melarangnya menceritakan hubungan ini pada Mamiqnya. Aku tahu, Mamiq Mandalika pasti tidak menyetujui hubungan kami, disebabkan oleh jurang derajat pemisah yang begitu dalam.
***
Sebulan kemudian menjalani hubungan secara rahasia, akhirnya Amaqku dan Mamiq Mandalika tahu juga dengan hubungan kami.
Jelas sajalah apa yang terjadi. Baik aku maupun Mandalika diwanti – wanti oleh orang tua masing – masing.
“Baiq Mandalika, dengarkan Mamiq. Mamiq tidak setuju kalau kamu menjalin hubungan dengan Mustafa. Dia itu hanyalah seorang anak tukang kebun di sini. Di luar sana masih begitu banyak pemuda yang lebih terhormat dari dia. Pilih saja sesuka hatimu. Mamiq pasti akan merestui hubungan kalian. Asal satu catatan, kamu tidak boleh berhubungan dengan Mustafa. Lagipula dia hanyalah keturunan dari masyarakat biasa tanpa gelar kebangsawanan satu pun melekat di depan namanya”, begitulah wanti - wanti yang biasa diterima oleh Baiq Mandalika. Sementara itu Baiq Mandalika pun hanya bisa menangis.
Demikianlah yang aku ketahui, sebab Baiq Mandalika seringkali bercerita padaku tentang wanti – wanti yang biasa dilontarkan oleh mamiqnya.
Kejadian yang dialami Baiq Mandalika pun tak berbeda jauh dengan yang aku alami. Amaq juga sering mewanti – wantiku agar tak lagi berhubungan dengan Baiq Mandalika.
“Amaq sudah tidak mau lagi mendengar bahwa kamu dan Baiq Mandalika masih mempunyai hubungan. Lebih baik cari gadis lain yang sederajat dengan kita. Baiq Mandalika itu terlalu tinggai untuk kau raih , anakku. Ia seoraang keturunan bangsawan, sementara kau sendiri hanyalah keturunan dari kalangan masyarakat biasa”, itulah wanti – wanti yang biasa ku terima dari Amaq.
Aku dan Baiq Mandalika sudah berpuluh – puluh kali diperingati oleh orang tua masing – masing agar tak lagi saling mencintai dan menjalin hubungan asmara. Namun rupanya cintaku dengan Baiq Mandalika begitu kuat hingga badai sebesar apapun datang melanda, cinta kami takkan peernah goyah. Peringatan dari orang tua masing – masing kami acuhkan. Kami tetap menjalni hubungan asmara ini dengan harmonis. Dengan tetap berharap semoga kelak hubungan kami pun direstui.
Lima bulan kemudian…
Menjalin hubungan dengan kekangan dari orang tua sungguh sautu beban yang berat. Namun aku dan Baiq Mandalika akan terus mencoba mempertahankan hubungan ini.
Dan hingga kini pun hubungan itu tetap kami pegang erat.
Akh… semilir angin pantai menerpa wajahku. Membuyarkan lamunan alam ingatan tentang flash back kejadian lima bulan lalu, awal aku bertamu Baiq Mandalika hingga kini ia menjadi kekasih hatiku. Duduk bersanding berdua denganku di bibir pantai Senggigi menikmati panorama keindahan alam ciptaan Tuhan.
“Mustafa, Baiq Mandalika”, sebuah suara memanggil namaku dan Baiq Mandalika. Suara itu suara yang begitu ku kenal. Suara Amaq.
Serentak, aku dan Baiq Mandalika pun menoleh, dan benar saja, Amaq sudah berdiri di belakang kami.
“Mustafa, ikut Amaq pulang. Ajak Baiq Mandalika ikut serta” , tanpa menunggu lama Amaq melontarkan kalimat tadi. Aku dan Baiq Mandalika bingung denagan sikap Amaq. Namun kami pun hanya bisa mengekor dari belakang, mengikuti perintah Amaq.
Sesampai di rumah, tanpa kami sangka sebelumnya ternyata Mamiq Mandalika juga sudah ada di dalam rumah. Aku kaget bukan kepalang. Di otakku telah timbul pikiran – pikiran miring tentang sesuatu yang akan terjadi. Pastinya kami akan diwanti habis – habisan dan akan dipisahkan untuk selamanya. Akh…aku tak bisa membayangkan jika harus kehilangan Baiq Mandalika.
Begitu pula perubahan raut wajah yang sempat ku perhatikan pada Baiq Mandalika. Wajahnya terlihat pusat pasi dan ia juga nampak sedikit gemetaran. Mungkin pikiran yang saat ini berkecamuk dalam pikiranku juga berkecamuk di alam pikirannya.
“Mustafa, Baiq Mandalika, duduklah”, Amaq mempersilahkan kami berdua duduk.
Amaq pun kemudian melanjutkan.
“Mustafa, Baiq Mandalika. Sebelumnya Amaq ingin minta maaf pada kalian jika akan menceritakan suatu hal pada kalian. Hal yang sudah seharusnya kalian ketahui”, Amaq mengucapkan kata – kata tadi dengan penuh kerahasiaan.
Amaq kemudian membuka kotak kayu kecil berukiran khas Lombok. Isi dalam kotak itu adalah sepasang kalung bertali hitam dan barbando berbentuk huruf ‘V’ terbalik. Sepertinya bando kalung itu terbuat dari magnet. Amaq mencoba menyatukan kedua kalung tersebut. Ternyata perpaduan bando kedua kalung yang tadi disatukan Amaq membentuk huruf ‘M’.
Baru kemudian Amaq mulai bercerita
“Tujuh belas tahun lalu, tepat saat bulan purnama, Amaq dikaruniai dua orang anak kembar. Kedua anak kembari tulah yang memiliki kalung ini. Kemudian ada seorang saudagar kaya yang belum dikaruniai seorang momongan pun walau sudah menikah selama sepuluh tahun. Ia begitu berhasrat untuk memilki seorang anak. Walau mungkin harus mengasuh anak angkat.
Saat mengetahui Amaq dikaruniai dua orang anak kembar, saudagar tadi datang pada Amaq untuk meminta salah seorang dari anak kembar yang Amaq milki. Setelah satu minggu dipikir – pikir akhirnya Amaq manyetujui juga keinginan saudagar tadi. Amaq pun akhirnya memberikan salah seorang dari anak kembar yang Amaq miliki.
Bukan tidak ada alasan yang mendasar mengapa Amaq rela salah satu anak Amaq dijadikan sebagai anak angkat oleh saudagar tadi. Keadaan ekonomi, itulah alasan paling mendasar. Amaq tidak sanggup jika harus mananggung biaya hidup kedua anak tadi hingga besar. Penghasilah Amaq waktu itu juga masih tak seberapa. Lagipula Amaq juga ingin salah satu dari Amaq anak bisa merasakan hidup bahagia menikmati kemewahan, itulah sebabnya Amaq rela anak Amaq dijadikan sebagai anak angkat oleh saudagar yang kaya, dengan harapan agar ia bisa hidup mewah dan serba berkecukupan.
Sebenarnya, saat mengangkat salah satu anak Amaq, saudagar tadi menawarkan sebuah rumah dan beberapa petak sawah sebagai tanda terima kasih, namun Amaq menolaknya dengan halus. Amaq justru minta untuk dipekerjakan di rumah saudagar tadi agar Amaq tetap bisa memantau dan melihat keadaan anak Amaq yang ada pada saudagar. Satu lagi permintaan Amaq pada saudagar tadi, Amaq hanya minta agar anak Amaq dirawat dan dijaga baik – baik serta mengakuinya sebagai anak kandungnya sendiri.”, Amaq sempat meneteskan air mata menceritakan kisah tadi.
Pikiranku galau, bukankah aku anak Amaq?, secara otomatis tentu anak kembar yang Amaq ceritakan tadi adalah aku. Lantas dimana saudara kembarku?. Begitu banyak pertanyaan berkecamuk dalam dadaku.
“Mustafa, Baiq Mandalika, kami berdua sebagai orang tua melarang hubungan asmara yang kalian jalin sebenarnya bukanlah semata - mata beralasan karena stratifikasi sosial di antara kalian. Melainkan suatu hal. Dan hal inilah yang sekarang harus kalian ketahui.
Mustafa, Baiq Mandalika, maaf jika Amaq pernah melarang keras hubungan kalian. Sebab, jika tidak dilarang, maka Amaq pulalah yang akan menanggung dosa dan murka Tuhan. Sebelumnya, mungkin rahasia ini tidak akan pernah Amaq buka dan ceritakan pada kalian seandainya saja kalian tidak bersikeras melanjutkan hubungan kalian.
Mustafa, Baiq Mandalika, anak kembar yang tadi Amaq ceritakan adalah kisah kalian berdua. Itulah sebabnya Amaq dan Mamiq menentang keras hubungan asmara yang kalian jalin. Alasannya bukan semata - mata karena perbedaan sosial. Hentikan sampai disini hubungan kalian sebagai sepasang kekasih tetapi lanjutkan sebagai sepasang adik kakak, karena kalian adalah saudara kembar, kalian adalah anak - anakku”, Amaq mengakhiri ucapannya.
Mendengar penjelasan Amaq tadi, jelas saja aku dan Baiq Mandalika terbelalak seolah tak percaya dengan apa yang kami dengar. Aku belum siap memutar hatiku dari mencintai Baiq Mandalika sebagai kekasih kemudian sekarang akan menjadi saudara, adik kembaranku. Begitu pulalah yang mungkin dirasakan Baiq Mandalika. Sepintas ku perhatikan butiran bening mengalir dari kelopak matanya membentuk aliran sungai kecil dikedua pipinya.
“Kakak”, tiba – tiba Baiq Mandaika memelukku seraya melontarkan panggilan kakak padaku.
Ku sambut pelukannya, bukan pelukan kepada seorang kekasih, tetapi mencoba memutar haluan hatiku, memeluknya sebagai seorang saudara kembarku. Aku harus mencoba membunuh perasaanku padanya sebagai seorang kekasih.
“Adikku”, bisikku ditelinganya.
***
Keterangan :
Dedare : dalam bahasa sasak berarti ‘gadis’
Sasak : suku asli pulau Lombok
Amaq : dalam bahasa sasak berarti ‘bapak’ (panggilan Amaq khusus untuk masyarakat non bangsawan/ masyarakat biasa di kalangan masyarakat sasak )
Bebaleq : rumah kecil beratap rumbia atau ilalang, berada di pinggiran petak sawah. Berfungsi sebagai tempat peristirahatan para petani setelah lelah bekerja di sawah
Tuaq : dalam bahasa sasak berarti ‘paman’
Mamiq : dalam bahasa sasak berarti ‘bapak’ (panggilan Mamiq khusus untuk masyarakat bangsawan di kalangan masyarakat sasak)
Langganan:
Postingan (Atom)
