Tampilkan postingan dengan label Budaya NTB. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya NTB. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Januari 2010

Pesta Bau Nyale

Bau Nyale adalah sebuah pesta Rakyat yang secara rutin dilakukan setiap tahun Uapcara ini dilakukan atas dasar sebuah cerita legenda/ cerita rakyat yang berkembang di Daerah Lombok Tengah bagian selatan tepatnya pada masyarakat komunitas Pujut, Pujut adalah sebuah nama Kecamatan yang merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Lombok Tengah, berada pada posisi selatan/tenggara dari titik Ibu Kota Lombok Tengah ( Praya ) dengan jarak tempuh sekitar 15 km menuju selatan menurut kebiasaan masyarakat dalam melakukan upacara ini dilaksanakan di Pantai Seger Kuta (Pantai selatan) konon cerita bahwa Seorang Raja bertahta disebuah Kerajaan bernama Kerajaan Tunjung Bitu dalam lontar tertulis dengan literatur Jejawen Tonjeng Beru, Sang Raja memiliki seorang Putri cantik jelita, cerdas dan bijak, Putri Raja itu bernama Putri Mandalika kelebihan yang dimiliki Sang Putri tersebar keseluruh kerajaan bahkan sampai di Negeri sebrang, Sang Raja bersudara tujuh orang dan masing-masing memimpin kerajaan, diantara semua Raja-raja yang mengetahui adanya Putri yang sangat cantik di Kerajaan Tunjung Biru, akhirnya mereka memerintahkan Putra Mahkota masing-masing untuk meminang Putri Mandalika.

Saking arif dan buijaknya Sang Putri, semua Putra Mahkota yang datang melamarnya disanggupi, diluar kesadaran Sang Putri, bahwa sikapnya itu sikap yang kurang baik dan akan menjadi riskan bagi dirinya, sebagai seorang Putri Raja, Putri Mandalika memiliki prangai pendiam, sulit untuk mengutarakan permaslahan yang sedang dihadapinya, akhirnya semua tunangannya itu disanggupi pada tanggal dua puluh bulan sepuluh penanggalan Sasak, dimana pada waktu yang ditentukan Sang Putri tersebut adalah bulan-bulannya musim penghujan.

Tiba saatnya janji Sang Putri tersebut, maka semua Putra Mahkota datang bersama pasukan pengawalnya dengan membawa harta lamaran masing-masing, tidak dapat dielakkan lagi pertempuran terjadi disepanjang jalan menuju Tonjeng Beru sebagai akibat dari janji kolektif yang diucapkan sang putri kepada semua calon suaminya, Sang Putri mendengar berita tentang terjadinya pertempuran dalam perjalanan, Sang Putri semakin panik bahkan

gusar sekali, akan tetapi walau demikian yang dipikirkan Sang Putri tidak akan mencetuskan perasaannya hatta kepada dayangnya sekalipun apalagi akan minta pendapat dari Sang Raja (ayahandanya).

Adalah hal yang sangat tidak disangka keputusan yang diambil dalam rangka mempertahankan konsistensinya, Sang Putri menceburkan dirinya kelaut yaitu tepatnya di pantai Segter, ketika SangPutri menceburkan dirinya ke laut itu, Putri Mandalika berpesan kepada segenap yang hadir dengan ucapan :Wahai Kakanda-kakandaku yang sangat aku cintai dan kasihi, serta seluruh kalewarga Kerajaan Tonjeng Beru / Tunjung Biru aku ini telah melakukan kesalahan ( Nyalaq) karena semua kakanda-kakandaku adalah Satria yang gagah berani dan sakti mandraguna, disamping itu aku sangat mengasihi kalian sebagai kalawarga Tunjung Biru, jika aku diboyong oleh salah seorang kesatria yang ada ini, jelas akan timbul pertumpahan darah dan aku tidak akan bersama lagi dengan kalian, hal ini yang tidak dapat aku lakukan dan tidak akan pernah ada dihati dan pikiranku, sebagai seorang putri Raja yang konsekwen (Tindih) tidak akan pernah mengingkari janjinya, maka untuk memnuhi janji yang pernah aku ucapkan, maka aku akan menceburkan diri dilaut selatan ini, kelak pada tanggal 20 bulan 10 penanggalan Sasak, aku akan muncul dengan wujud lain agar semua orang tidak ada kecuai akan menikmati dan merasakan kehangatanku.Begitu ucapan Sang Putri berakhir, pada saat itulah Sang Putri menceburkan dirinya kelaut, sebagai mana fatwa Sang Putri, hingga saat ini oleh masyarakat komunitas Pujut khususnya setiap tahun selalu merayakan pesta Bau Nyale sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, oleh karena event ini tetap diselenggarakan oleh masyarakat bahkan juga dari luar Daerah juga ikut partisipasi, maka Pemda Kab. Lombok Tengah memperhatikan ini sebagai asset budaya yang setiap penyelenggaraannya telah menjadi koor event kegiatan budaya nasional

Perisean

Masyarakat komunitas Sasak memiliki banyak macam seni, ada seni pertunjukan tertutup, terbuka, teater kolosal dan Drama tradisional, disamping itu, ada pula yang tidak kalah menariknya yaitu Peresean, seni peresean ini menunjukkan ketangkasan, kedigdadayaan seorang pepadu / jawara, kesenian ini dilatar belakangi oleh pelampiasan rasa emosional para Raja dimasa lampau ketika menerima mendapat kemenangan dalam perang tanding melawan musuh-musuh Kerajaan, disamping itu para pepadu (pemain /pelaku ) pada peresean ini mereka mengji ketangkasan,ketangguhan dan kedigdayaan ( kepawaian) dalam bertanding.
Adapun alat yang dipakai dalam Peresean ini antara lain sebagai berikut :
Masing-masing pepadu/pemain yang akan bertanding membawa sebuah periai (ende) dipegang dengan tangan sebelah, dan disebelah lagi memegang alat pukul yang terbuat dari sebilah rotan, dalam pertanding ini dipimpin oleh seorang wasit ( Pekembar ), pekembar ini ada dua macam. Ada pekembar sedi / pinggir ini akan menanding pasangan bertarung, sedangkan pekembar tengaq akan memimpin pertandingan, pada umumnya para pepadu yang bertarung oleh pekembar mempunyai awiq-awig dengan menggunakan sistem ronde atau tarungan, masing-masing pasangan bertarung selama lima ronde, yang akhir ronde / tarungan tersebut ditandai dengan suara pluit yang ditiup oleh pekembar tengaq ( yang memimpin pertandingan ). Peresean ini disamping alat yang digunakan oleh masing-masing pepadu, juga ada musik illustrasi yang akan membangkitkan semangat pertarungannya, alat musiknya ini sangat sederhana tapi cukup menggelitik semangatnya untuk bertanding, alat musik tsb. Adalah
1 Gong
2. sepasang kendang
3. Rincik / simbal
4. K a j a r
5. Suling
alat ini tak ubahnya seperti alat / instrument wayang.
Berikut gambar / visual peresean

PERANG TIMBUNG

Sejarah terjadinya Perang Timbung / Penimbungan ini adalah salah satu fatwa yang dititahkan oleh seorang Raja (Datu) yang berkuasa di sebuah Kerajaan yang bernama Kerajaan Poh Jenggi ( Pejanggiq).
Dikerajaan ini bertahta seorang Raja (Datu) yang sangat arif dan bijaksana, Raja ini bertahta dengan gelar Datu Dewa Mas Pemban Aji Meraja Kusuma ( Datu Pemban Pejanggiq), Kerajaan Pejanggiq adalah sebuah kerajaan fazal dari kerajaan Selaparang yang mempunyai pusat kerajaan di Perigi (Lombok Timur) yang memerintah di Kerajaan Fazal Selaparang ( Pejanggiq ) ini adalah keturunan dari Raja-Raja Selaparang.
Ketika bertahta Dewa Mas Pemban Aji Meraja Kusuma di Pejanggiq ini, kondisi Kerajaan pada waktu itu sedang mengalami mis komunikasi dengan Kerajaan Induk yang akibatnya akan bermuara kepada konflik internal kerajaan.
Sebagai seorang Raja (Datu) yang religie dan fanatik Islam, maka Raja yang arif dan alim ini melalukan persemedian (Tapa Brata/ berhaluat), dimana dalam haluatnya baginda mendapat hidayah dari Yang Maha Kuasa yaitu petunjuk / wangsit bahwa Negeri ini akan ditimpa petaka yang sangat dahsyat dan akan mengalami keruntuhan.

Baginda Raja mengakhiri haluatnya dengan memanggil seluruh pemating, punggawa Kerajaan dan semua Pandite para niormal yang ada untuk mentakbir hidayah yang datang di haluat baginda Raja, hidayah ini dibahas berhari-hari bahkan berminggu, disaat Gondem dilakukan oleh semua perkanggo Kerajaan, muncul salah seorang Pandite sepuh mengajukan usul kepada Baginda yang katanya :
Hamba mohon ampura, jika hamba tidak dipersalahkan, hamba ingin menyampaikan suatu pendapat untuk menyikapi petunjuk yang Baginda peroleh dalam Haluwat, apa gerangan yang akan disampaikan paman pandite ? sabda Raja !
Pandite menyaut pertanyaan Baginda, hamba tidak akan berlebihan, bahwa sesuatu itu adalah rahmat, dan rahmat itu senantiasa diturunkan oleh Allah selalu dengan hikmahnya, demikian pula jika hal ini adalah sebuah Penyakit, maka Allah akan menurunkan penawarnya, Ampun Baginda, hamba terlalu lancang ! tidak mengapa, silakan diteruskan paman ! Pandite melanjutkan, Demi keberlangsungan Gumi Paer Kerajaan Pejanggiq, dan langgengnya kekuasaan Baginda, kiranya apa yang akan terjadi diNegeri ini akan kita antisipasi dengan tumbal, dan tumbal disini bukan berarti mengorbankan sesuatu yang sangat berlebihan, akan tetapi dalam hal ini Baginda cukup dengan bertitah kepada segenap Kawula Kerajaan Pejanggiq untuk melakukan ritual Tolak Balaq dengan membuat Jajan Pelemeng (timbung) yang terbuat dari Beras Pulut / ketan yang dicampur dengan perasan santan kental dan dibungkus dengan bilah bambu.
Baginda Raja mengakhiri Gondem itu dengan membuat kesimpulan yaitu melakukan ritual (upacara) tolak balaq sebagai suatu upaya mengantisipasi bencana / musibah yang akan menimpa Kerajaan Pejanggiq yaitu Upacara Perang Timbung / Penimbungan.
Sang Raja bertitah kepada para Punggawa Kerajaan agar semua Punggawa mengerahkan seluruh kawula masyarakat Pejanggiq agar melakukan Upacara ritual tersebut sebagai wujud inplementasi keputusan gondem, dengan tidak menunda-nunda waktu semua Punggawa dengan segera memukul kentongan (Kul-kul) sebagai pertanda adanya dedawuhan dari Kerajaan, dengan kul-kul semua kalawarga masyarakat Gumi Paer Pejanggiq ketika itu berduyun-duyun mendatangi alun-alun ( lendang galuh) untuk menerima titah Sang Raja (Datu), Datu berinstruksi langsung kepada halayak dengan titahnya berbunyi :
Wahai Saudara-saudaraku yang aku cintai, ketahuilah bahwa pada suatu saat nanti, Kerajaan Pejanggiq ini akan mengalami bencana perpecahan, perpecahan ini akan berakibat kepada keruntuhan Kerajaan, perpecahan ini nantinya akan timbul dari dalam Negeri ini sendiri untuk itu, melalui kesempatan ini, aku titahkan kepada kita semua agar melaksanakan sebuah upacara ritual sebagai upaya antisipasi agar tidak terjadinya bencana itu, caranya buatlah timbung untuk bahan / piranti dari upacara tersebut sebagai wujud persembahan kita kepada Sang pencipta, santuni Anak-anak Yatim/piatu, sayangi orang-orang tua /jompo dan perkuat kebersamaan melalui silaturrahmi diantara kita semua, Upacara ini hendaknya dilakukan setiap tahun dan ditahun itu akan ada tanda-tanda alam seperti dengan berbunganya sebuah pohon besar disekitar makam saya kelak nanti ( Pohon dangah) disanalah kalian lakukan dan jangan sekali-kali melakukan ritual ini pada hari jum’at minggu terakhir pada bulan bersangkutan.
Sabda Raja adalah sabda pandite, sabda pandite adalah andika mulia apapun yang tititahkan Raja maka segenap kalawarga Kerajaan Pejanggiq akan senantiasa melaksanakannya, pantang jika perinatah Raja itu ditolah atau tidak dilaksanakan maka itu adalah berbuatan melawan Tabu (pemali) apalagi perintah melakukan Rital seperti ini.
Nah inilah yang melatar belakangi Ritual Perang Timbung / Penimbungan dilaksanakan sejak dahulu kala hingga saat sekarang ini bahkan upacara rituil Perang Timbung / Penimbungan ini oleh Pemda Lombok Tengah melalui Dinas Instansi terkait di nivo Kabupaten telah diangkatnya sebagai salah satu kegiatan Mayor event pariwisata Lombok.
Pelaksanaannya dapat kami sampaikan melalui gambar / photo peristiwa pelaksanaan rituil perang timbung / penimbungan.

Gendang Beleq

Disebut Gendang Beleq karena salah satu alatnya adalah gendang beleq (gendang besar). Orkestra ini terdiri atas dua buah gendang beleq yang disebut gendang mama (laki-laki) dan gendang nina (perem-puan), berfungsi sebagai pembawa dinamika.
Sebuah gendang kodeq (gendang kecil), dua buah reog sebagai pembawa melodi masing-masing reog mama, terdiri atas dua nada dan sebuah reog nina, sebuah perembak beleq yang berfungsi sebagai alat ritmis, delapan buah perembak kodeq, disebut juga "copek". Perembak ini paling sedikit enam buah dan paling banyak sepuluh. Berfungsi sebagai alat ritmis, sebuah petuk sebagai alat ritmis, sebuah gong besar sebagai alat ritmis, sebuah gong penyentak sebagai alat ritmis, sebuah gong oncer sebagai alat ritmis dan dua buah bendera merah atau kuning yang disebut telontek.
Menurut cerita, gendang beleq ini dulu dimainkan kalau ada pesta-pesta kerajaan, sedang kalau ada perang berfungsi sebagai komandan perang, sedang copek sebagai prajuritnya. Kalau perlu datu (raja) ikut berperang, disini payung agung akan digunakan.
Sekarang fungsi payung ini ditiru dalam upacara perkawinan. Gendang Beleq dapat dimainkan sambil berjalan atau duduk. Komposisi waktu berjalan mempunyai aturan tertentu, berbeda dengan duduk yang tidak mempunyai aturan.
Pada waktu dimainkan pembawa gendang beleq akan memainkannya sambil menari, demikian juga pembawa petuk, copek dan lelontek.

Event di Lombok

Perang Topat
Perang Topat adalah suatu upacara ritual yang merupakan pencerminan rasa syukur kepada Sang Pencipta yang telah memberikan anugrah kerukunan antar umat dan telah memberikan kemakmuran dalam bentuk kesuburan tanah, cucuran air hujan dan hasil pertanian yang melimpah. Perang Topat dilaksanakan di Taman Pura Lingsar oleh umat Hindu bersama-sama dengan masyarakat Suku Sasak
Mulang Pekelem - Gunung Rinjani

Mulang Pekelm – Gunung Rinjani
Orang Bali yang secara historis telah lama menjadi bagian penduduk Lombok tetap mempertahankan nilai budayanya secara teguh. Berbagai upacara keagamaan, adat istiadat dan tradisi seni budaya mereka tetap eksis. Salah satunya adalah Upacara Pekelem di Danau Segara Anak Rinjani. Pekelem artinya membenamkan persembahan tanda kesyukuran kepada Sang Maha Pemberi. Inti benda korban yang dipersembahkan berupa Emas Kencana yang dibentuk dalam personifikasi kehidupan. Upacara Pekelem di Danau Segara Anak diikuti oleh ribuan masyarakat Hindu di Lombok. Bahkan ada pula kerabat keluarga yang datang dari Pulau Bali meskipun harus bersusah payah mendaki Gunung Rinjani tetapi karena keyakinan dan dambaan akan karunia Sang Pencipta mengatasi segalanya. Pesona Rinjani yang hayati itu memberi kesepadanan atas jerih payah peziarah.

Lebaran Topat
Lebaran Topat sebagai suatu tradisi berlebaran dan berekreasi dengan membawa makanan Ketupat dan lauk pauknya merupakan peristiwa budaya yang bernuansa Islam dan diselenggarakan pada hari ketujuh terhitung sesudah hari Raya Idul Fitri. Untuk memerihakan acara ini di beberapa obyek wisata diselenggarakan berbagai atraksi seni budaya yang bernuansa Islami dan hiburan

Kompetisi Cidomo Tradisional
Cidomo pada zaman dahulu sampai saat ini merupakan sarana trasportasi tradisional masyarakat Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa dimana masyarakat di Pulau Lombok alat transportasi ini biasa disebut Cidomo, masyarakat di Kabupaten Bima dan Dompu menyebutnya Benhur sedangkan masyarakat di Kabupaten Sumbawa terkenal dengan nama Dokar. Cidomo dan Dokar ini dikendalikan oleh seorang yang disebut dengan kusir ditarik dengan satu ekor kuda yang dilengkapi dengan berbagai kelengkapannya diantaranya : Topeng/kacamata kuda, tali ekor, tali dada, pecut dan tali kendali. Seiring dengan perkembangan pariwisata maka alat tradisional ini dapat dijadikan sebagai obyek dan daya tarik bagi wisatawan yaitu dengan mengadakan lomba cidomo tradisonal. Dalam lomba ini akan ditentukan klasifikasi/pembagian kelas sesuai dengan umur kudanya

Festival Presean
Kejantanan dan heroisme merupakan syarat ideal lelaki Sasask. Sikap ini antara lain diasah dalam salah satu permainan yang disebut Presean. Sang petarung atau Pepadu menggunakan tongkat rotan sebagai alat pukul. Sebagai pelindung digunakan perisai yang terbuat dari kulit sapi ukuran sehasta berbentuk segi empat. Sportifitas menjadi syarat utama permainan ini. Seorang wasit yang bergelar Pakembar menjadi penengah. Iringan musik sederhana menyertai permainan ini sebagai penambah semangat, dahulu permainan ini dikaitkan dengan upacara mohon hujan. Pantaslah kalau penyelenggaraannya biasanya pada waktu musim kemarau

Festival Senggigi
Festival Senggigi adalah salah satu bentuk kegiatan dalam usaha untuk memajukan pariwisata di Kabupaten Lombok Barat yang dilaksanakan atas perpaduan antara pemerintah dengan pihak perhotelan, para seniman dan budayawan serta pihak-pihak terkait lainnya guna mempromosikan pariwisata daerah, pameran dan pagelaran seni budaya tradisional Lombok (Sasak) kepada para wisatawan mancanegara maupun nusantara yang dilaksanakan selama sepekan